— Ketua Fraksi Golkar DPR M Sarmuji menyerukan agar generasi muda tidak sekadar menghafal Pancasila, melainkan menumbuhkan kembali nilai-nilainya dengan menyesuaikan perkembangan zaman digital dan kecerdasan buatan. Pernyataan itu disampaikan pada Seminar Wawasan Kebangsaan bertajuk “Pancasila Bukan Dibumikan, Tapi Ditumbuhkan” di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ), Selasa (14/7/2026).

Sarmuji membuka pemaparannya dengan menegaskan bahwa Pancasila bukanlah barang titipan dari luar yang perlu diturunkan ke bumi Indonesia, melainkan lahir dari bumi Indonesia sendiri. Karena itu, menurutnya, ungkapan “membumikan kembali Pancasila” dianggap keliru.

Ia mengutip pernyataan Proklamator sekaligus presiden pertama RI, Sukarno atau Bung Karno, dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Dia menyitir pernyataan Bung Karno yang berbunyi, “Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami tradisi-tradisi kami sendiri dan aku menemukan lima butir mutiara indah”.

“Kalau Bung Karno saja bilang begitu, ya berarti merawat Pancasila itu artinya merawat sumber galiannya, budaya dan kepercayaan asli yang hidup di berbagai daerah, bukan sekadar menghafalkan lima sila,” kata Sarmuji.

Rehabilitasi Saluran Penanaman Nilai

Sarmuji menekankan perlunya merevitalisasi saluran penanaman nilai Pancasila. Dahulu, nilai-nilai luhur bangsa diwariskan lewat dongeng, tembang, dan wayang, namun kini medium tersebut perlu dipasangkan dengan padanan yang relevan untuk masa kini.

Menurutnya, media sosial, kecerdasan buatan, film, musik atau lagu, dan berbagai medium digital lainnya dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai Pancasila, bukan hanya dipandang sebagai ancaman.

“Persoalannya bukan menolak teknologinya, tapi bagaimana nilai luhur kita bisa dikemas semenarik konten yang selama ini justru mengalahkannya,” ujarnya.

Peran Negara dan Lembaga

Untuk mewujudkan itu, Sarmuji mendorong perumusan strategi kebudayaan baru yang melibatkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan lembaga negara terkait. Peran lembaga-lembaga tersebut, menurutnya, adalah sebagai perumus arah dan fasilitator.

“Tugas negara idealnya memfasilitasi ekosistem, (seperti) mendukung kreator, industri film dan musik, serta pengembang teknologi, supaya nilai luhur hidup lewat cerita yang dipilih sendiri oleh masyarakat,” kata Sarmuji.

“Merevitalisasi Pancasila, pada akhirnya, berarti merevitalisasi sumber dan saluran-saluran itu sekaligus untuk konteks zaman sekarang,” pungkasnya.

Seminar tersebut dihadiri oleh Sekretaris Fraksi Partai Golkar MPR RI Ferdiansyah dan Rektor UPNVJ Anter Venus, serta diikuti para mahasiswa.