Bulutangkis

Raymond/Joaquin Akui Fisik Terkuras Habis Usai Jadwal Padat, Evaluasi Menanti

Advertisement

Ganda putra muda Indonesia, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, mengakui kondisi fisik mereka terkuras habis setelah menjalani jadwal turnamen yang sangat padat dalam dua bulan terakhir. Situasi ini menjadi fokus evaluasi serius menjelang persiapan tur Eropa.

Jadwal Padat Berujung Kelelahan Fisik

Raymond/Joaquin tercatat mengikuti empat turnamen beruntun, mulai dari ajang perorangan hingga beregu. Prestasi mereka terbilang impresif dengan dua kali menembus final (Indonesia Masters dan Thailand Masters), sekali semifinal, dan sekali terhenti di babak awal. Namun, pencapaian tersebut harus dibayar mahal dengan kondisi fisik yang menurun drastis.

Jeda antar-turnamen yang hanya berkisar 2-3 hari membuat proses pemulihan pemain tidak berjalan maksimal. Setelah menyelesaikan tur Asia Tenggara (meliputi Malaysia, Indonesia, dan Thailand), mereka langsung bertolak ke Qingdao, China, untuk berpartisipasi dalam Badminton Asia Team Championships (BATC).

Evaluasi Performa dan Target

Raymond menilai bahwa hasil yang diraih di Thailand Masters (Super 300) sebenarnya sudah melampaui target yang ditetapkan. Namun, ia menyoroti penurunan performa fisik yang signifikan saat tampil di BATC.

“Ya mungkin Thailand sudah melebihi target, cuma di final maunya memang menang tapi belum bisa dapat kemenangan super 300. Kalau di BATC sih evaluasinya untuk ke performa fisik dan teknik lagi sih. Itu yang harus ditingkatin lagi. Terutama fisik karena kami (kemarin) kayak sudah habis saja rasanya,” ujar Raymond saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung.

Setelah jeda singkat pasca-BATC, Raymond/Joaquin dijadwalkan menghadapi kalender BWF tur Eropa yang tak kalah menantang. Mereka akan tampil di All England (3-8 Maret), Swiss Open (10-15 Maret), hingga Orleans Masters (17-22 Maret).

Advertisement

Tekanan Kompetisi Super 500

Joaquin menambahkan bahwa menjalani rangkaian turnamen beruntun bukanlah hal baru bagi mereka, mengingat pengalaman serupa di tahun sebelumnya. Namun, ia menekankan bahwa level kompetisi Super 500 memberikan tekanan yang jauh berbeda.

“Sebenarnya kalau (pertandingan beruntun) 3 turnamen sebelumnya sudah pernah ya di tahun lalu. Sudah sempat 3 turnamen juga cuma memang yang di tahun lalu (hasilnya) dua kali semifinal dan final (Indonesia Masters I, Kaohsiung Masters, dan Al Ain Masters),” tutur Joaquin.

“Bahkan yang di sini, kami 2 turnamen pertama (dapat) final. Tapi memang lebih berasa pada fisiknya karena lawan-lawan di super 500 sudah top-top semua, enggak gampang, jadi itu lebih menguras fokus. Itu juga yang jadi bahan evaluasi bagi kami agar lebih meningkatkan fokus dan fisiknya ke depannya,” lanjutnya.

Ambisi Podium Tertinggi

Meskipun kondisi fisik sedang berada di titik kritis, Joaquin menegaskan bahwa ambisi untuk meraih podium tertinggi di turnamen-turnamen selanjutnya tetap membara.

“Saya inginnya semuanya (juara) apalagi targetnya memang ada. Ada target-target khusus di setiap pertandingan memang ada cuma kami berusaha mau menampilkan yang terbaik dulu,” pungkas Joaquin.

Advertisement