Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, menyatakan negaranya tidak akan ikut serta dalam seruan boikot Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil di tengah memanasnya isu geopolitik antara Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait rencana Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok Greenland, wilayah kekuasaan Denmark.
Ketegangan Geopolitik dan Dampaknya pada Piala Dunia
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa semakin memanas akibat isu pencaplokan Greenland. Amerika Serikat, yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko, juga telah mengeluarkan kebijakan larangan visa yang berdampak pada beberapa negara peserta, termasuk Senegal dan Pantai Gading. Meskipun tim dan staf mereka masih diizinkan masuk, para suporter dari negara-negara tersebut menghadapi pembatasan.
Menanggapi situasi ini, Menteri Olahraga Prancis Marina Ferrari menegaskan sikap negaranya. “Saat ini, kementerian tidak memiliki keinginan untuk memboikot kompetisi besar yang sangat dinantikan ini,” ujar Ferrari, mengutip ESPN. Ia menambahkan, “Meskipun demikian, saya tidak menghakimi apa yang mungkin terjadi.”
Seruan Boikot dari Kalangan Politisi Prancis
Di Prancis sendiri, tidak semua pihak sepakat dengan keputusan pemerintah. Anggota parlemen dari sayap kiri, Eric Coquerel, berpendapat bahwa Prancis seharusnya bergabung dengan seruan boikot. Menurutnya, tindakan AS yang dianggapnya telah melampaui batas, termasuk menyerang negara tetangga, mengancam Greenland, dan merusak hukum internasional, tidak dapat dibiarkan.
“Serius, bisakah kita benar-benar membayangkan bermain di Piala Dunia sepakbola di negara yang menyerang ‘tetangganya,’ mengancam untuk menyerang Greenland, merusak hukum internasional, dan ingin menghancurkan PBB?” tulis Coquerel dalam sebuah unggahan di media sosial. Ia juga menyarankan adanya kemungkinan untuk memfokuskan kembali acara tersebut hanya di Meksiko dan Kanada.






