Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI M Syafi’i membeberkan kronologi jatuhnya pesawat Smart Air tipe Caravan dengan nomor registrasi PK-SNS di kawasan pantai Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Insiden ini pertama kali terdeteksi setelah sistem Emergency Locator Transmitter (ELT) pesawat tersebut aktif.
Deteksi Melalui ELT
“Bahwa betul kira-kira jam 12.00, jadi ada distress yang diaktifkan dari salah satu pesawat ELT dan ini dimonitor oleh LUT kita yang ada di Badan SAR Nasional dan dari situ Basarnas Command Center mem-broadcast adanya kejadian itu,” ujar Syafi’i usai rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Keputusan Kembali ke Bandara
Pesawat tersebut diketahui berangkat dari Nabire untuk menjalankan misi penerbangan. Namun, di tengah perjalanan, pilot mendeteksi adanya kondisi tidak normal. Hal ini mendorong pilot untuk mengambil keputusan kembali ke bandara asal.
“Pesawat berangkat dari Nabire mau melaksanakan mission, karena ada kondisi yang tidak normal akhirnya memutuskan untuk return to base,” jelas Syafi’i.
Kehilangan Tenaga dan Pendaratan Darurat
Dalam proses kembali menuju bandara, pesawat dilaporkan mengalami penurunan daya mesin hingga akhirnya kehilangan tenaga. Kondisi ini memaksa pilot untuk melakukan pendaratan darurat di perairan.
“Selama proses perjalanan kembali ke aerodrome ternyata terjadi semacam ada power yang drop jadi lost power, sehingga pesawat harus melaksanakan ditching di danau sebelum atau di air sebelum sampai di bandara,” tuturnya.
Keselamatan Penumpang dan Kru
Syafi’i memastikan bahwa seluruh penumpang dan kru yang berjumlah 13 orang dalam kondisi selamat. Mengenai penyebab pasti jatuhnya pesawat, Syafi’i menyerahkan sepenuhnya investigasi kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Alhamdulillah seluruh korban bisa terselamatkan. Ada 13 penumpang, 13 orang, kru dan penumpang, dan kalau soal kenapa kejadian ini tentunya nanti pasti akan menjadi kegiatan dari KNKT,” pungkasnya.






