— Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Kota Depok, terbakar pada Kamis malam. Pemerintah Kota (Pemkot) Depok bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyiapkan langkah-langkah agar insiden serupa tidak terulang.

Salah satu langkah yang diputuskan adalah penyiraman titik-titik di area TPA sebanyak dua kali sehari serta penguatan pengawasan dan pemantauan menggunakan drone dan kendaraan pemantau kualitas udara.

Rencana Penyiraman dan Pengawasan

Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mengatakan penyiraman akan dilakukan secara berkala. “Tadi juga, nanti kami per satu hari dua kali, dari Ibu Kadis (LHK Depok) rencana akan melakukan pembasahan, penyiraman satu hari dua kali untuk mitigasinya,” kata Chandra ditemui di TPA Cipayung, Jumat (17/7/2026).

Chandra menambahkan Pemkot akan memperkuat pengawasan di lokasi. Dinas Lingkungan Hidup dan Kesehatan (DLHK) Kota Depok diminta menambah frekuensi patroli lapangan.

“Pertama, memperkuat pengawasan. Pertama kami hal ini dari DLHK juga sebenarnya sudah melakukan patroli lapangan secara rutin. Tapi nanti akan ditambahkan dengan patroli drone. Seperti itu. Kedua, memperkuat juga tim, tim untuk mitigasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Peran KLH: Drone Termal dan Mobil Pemantau

Kementerian Lingkungan Hidup melalui Deputi Penegakkan Hukum (Gakkum), Direktorat Udara, dan Direktorat Penanganan Sampah turun tangan dalam penanganan kebakaran. KLH menerbangkan drone untuk mendeteksi titik api yang masih muncul.

“Tadi pagi kami menerbangkan drone termal kami untuk menganalisa apakah masih terdapat titik api atau tidak gitu ya. Dari hasil analisa drone termal kami untuk titik api permukaan, kita lihat memang sudah tidak ada,” kata Direktur Pengaduan dan Pengawasan Lingkungan Hidup KLH, Ardyanto Nugroho, di lokasi.

Ardyanto menyebut drone termal akan diterbangkan secara berkala. “Setiap 3 jam kami akan terbangkan drone termal kami untuk memantau titik api-titik api terutama yang di bawah permukaan,” katanya.

Selain drone, KLH menurunkan mobil stasiun pemantauan kualitas udara untuk menilai potensi dampak kesehatan masyarakat dari kebakaran.

“Itu mobil stasiun pemantauan kualitas udara yang bisa mobile ke mana saja. Fungsinya adalah untuk mengukur beberapa parameter seperti misalnya PM2.5, PM10, dan partikel lainnya dan zat yang lainnya. Ini setiap parameter memiliki baku mutu. Ketika dia melebihi baku mutu, itu ada risiko terhadap kesehatan masyarakat. Dan itu kita pantau terus di situ,” ujar Ardyanto.

Detik Kejadian dan Penanganan

Kebakaran di TPA Cipayung terjadi pada Kamis (16/7) sekitar pukul 19.30 WIB. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Depok, Rni Siti, api diduga berasal dari timbunan bawah sampah.

“Kejadiannya kalau tadi menurut informasi jam 19.30, ya. Dari bawah kayaknya (titik api),” kata Rni Siti kepada wartawan, Kamis (16/7).

Api dilaporkan padam pada pukul 22.52 WIB. Penyebab kebakaran saat ini masih dalam proses investigasi.