Berita7.co.id — Kementerian Pertanian menargetkan percepatan transformasi produksi padi lewat penerapan metode Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) untuk mendorong Indonesia menjadi lumbung beras dunia. Program ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas gabah dari rata-rata nasional 5,5 ton per hektare (ha) menjadi 10–12 ton per ha.
Penerapan awal PM-AAS akan difokuskan pada sawah beririgasi teknis seluas sekitar 4 juta ha. Uji coba telah dilakukan pada 1.600 ha dan rencana ekspansi ditetapkan hingga 1 juta ha pada 2027.
PM-AAS adalah sistem intensifikasi yang menggabungkan teknik budi daya padi jajar legowo dengan teknologi tanam dari Arkansas. Dengan metode ini, populasi tanaman meningkat signifikan—dari 300–360 batang per ha menjadi sekitar 1 juta batang per ha—sehingga pemanfaatan cahaya matahari untuk fotosintesis lebih optimal.
Biaya usaha tani padi dengan PM-AAS meningkat tipis, dari sekitar Rp13 juta menjadi Rp15 juta per ha. Namun demikian, perhitungan yang disampaikan menyebutkan keuntungan petani melonjak dari Rp5 juta menjadi Rp16,3 juta per musim tanam.
Penerapan metode ini juga mengurangi kebutuhan tenaga kerja karena menggunakan sistem tanam benih langsung (direct-seeding), berbeda dengan praktik umum yang masih melalui proses semai, pencabutan, lalu penanaman kembali. Pada lahan uji, produktivitas gabah tercatat 8–9 ton per ha dan diharapkan dapat mencapai 11–12,4 ton per ha ke depan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produksi pangan yang berkelanjutan harus melibatkan petani, sehingga implementasi pertanian modern perlu diarahkan pada peningkatan kesejahteraan mereka.
“Kami minta penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan kepala dinas pertanian se-Indonesia mengawal PM-AAS ini. Kita coba di daerah-daerah irigasi, katakan sekarang rata-rata nasional 5,5 ton per ha (produktivitas padi/gabah), kalau jadi 11 ton, berarti naik dua kali lipat. Artinya apa? Kita akan melompat di atas negara-negara superpower, Indonesia menuju lumbung pangan dunia, itu mimpi kita realisasikan. Tiga tahun kita bergerak, kemarin swasembada satu tahun bisa, ini tiga tahun kita rancang, di situ puncak Indonesia memberi pangan dunia,”
Pemaparan tersebut disampaikan saat Rapat Koordinasi Perluasan Penerapan Budi Daya Padi PM-AAS di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026. Menurut Menteri, pertanian modern kini memasuki fase lanjut, termasuk pemanfaatan teknologi drone dalam praktik pertanian.
Ke depan, drone dinilai dapat membantu pengangkutan gabah di wilayah tanpa jalan usaha tani sehingga distribusi hasil panen lebih efisien. Menteri menyebutkan kemampuan angkut drone hingga 100 kilogram sebagai tahap pengembangan setelah penggunaan drone untuk penanaman padi.
Cadangan Pangan Siap Hadapi Musim Kemarau
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan semua Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), termasuk beras, siap untuk mengantisipasi musim kemarau dan fenomena El Nino. Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menyebutkan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi untuk membangun stok CPP yang kokoh.
“Kita harus tetap waspada menghadapi El Nino dengan cadangan pangan yang kokoh, produksi yang terus meningkat, distribusi yang kian kuat serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan kita,”
Salah satu bukti kesiapsiagaan adalah Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog sebesar sekitar 5,2 juta ton. Selain beras, tercatat stok jagung pakan 188 ribu ton per 8 Juli 2026, yang disalurkan untuk peternak unggas melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
CPP lain yang tersedia antara lain minyak goreng sebanyak 1.100 kiloliter yang dikelola Perum Bulog dan ID Food, gula konsumsi sekitar 2.790 ton di Bulog dan ID Food, serta daging ayam 38 ton di ID Food. Untuk komoditas yang mudah rusak (perishable) seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, Bapanas menyatakan kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri secara reguler berkat surplus produksi terhadap kebutuhan konsumsi.
Proyeksi Produksi Komoditas Pangan 2026
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 yang diolah Bapanas, proyeksi produksi dan konsumsi beberapa komoditas utama adalah sebagai berikut:
- Cabai besar: produksi 1,51 juta ton; konsumsi 929.270 ton.
- Cabai rawit: produksi 1,5 juta ton; konsumsi 913.610 ton.
- Bawang merah: produksi 1,32 juta ton; konsumsi 1,25 juta ton.
- Telur ayam ras: produksi 6,98 juta ton; konsumsi 6,47 juta ton.
- Daging ayam ras: produksi 4,89 juta ton; konsumsi 4,02 juta ton.
Pemerintah menegaskan kombinasi peningkatan produksi melalui PM-AAS dan stok CPP yang memadai menjadi bagian dari strategi untuk menjaga ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan iklim dan distribusi.
Ikuti Berita7.co.id
