Berita7.co.id — Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka Festival Liangkobori IV 2026 di Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Acara itu dimaksudkan untuk memperkuat pelindungan, pelestarian, dan pemanfaatan warisan budaya prasejarah di kawasan tersebut.
Festival menampilkan pertunjukan seni tradisi, pameran budaya, permainan tradisional, kuliner lokal, dan kegiatan edukasi tentang kawasan prasejarah Liangkobori. Penyelenggaraan juga menjadi ajang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan komunitas budaya.
Temuan Gua Metanduno Jadi Sorotan
Fadli menyatakan festival bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan kesempatan memperkenalkan tonggak penting sejarah peradaban kepada publik nasional dan internasional. Ia merujuk pada publikasi penelitian yang menetapkan lukisan cadas di Gua Metanduno sebagai karya seni nonfiguratif tertua di dunia dengan usia minimum 67.800 tahun.
Menurut Fadli, publikasi yang dirilis pada Januari lalu menguatkan posisi Nusantara dalam peta sejarah awal peradaban manusia dan membuka peluang penelitian lanjutan tentang asal-usul manusia serta perkembangan seni cadas di kawasan itu.
Seruan Untuk Pelindungan dan Dokumentasi
Menyorot temuan tersebut, Fadli menegaskan perlunya langkah pelindungan yang kuat melalui kolaborasi pemerintah, peneliti, akademisi, dan masyarakat. Ia menyebut pelindungan tidak hanya menjaga keaslian situs, tetapi juga menjadikannya sumber pengetahuan, pendidikan, diplomasi budaya, dan pengembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan.
“Ini adalah aset budaya, kekayaan budaya yang harus kita jaga. Temuan ini menunjukkan bahwa puluhan ribu tahun lalu sudah ada kehidupan dan peradaban di kawasan ini. Karena itu, situs ini harus kita amankan, lestarikan, dan preservasi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia,”
Saat meninjau Gua Metanduno, Fadli mendorong percepatan pendataan seluruh panel lukisan cadas di kawasan Muna melalui dokumentasi digital dan penelitian kolaboratif agar setiap temuan terdokumentasi dengan baik dan menjadi dasar penguatan upaya konservasi serta pengembangan ilmu pengetahuan.
Rencana Perlindungan dan Pengembangan
Kawasan Liangkobori disebut sebagai salah satu bentang karst terpenting di Indonesia yang menyimpan ratusan panel lukisan cadas prasejarah. Hasil penelitian bersama sejumlah lembaga menyatakan cap tangan di Gua Metanduno sebagai lukisan cadas tertua di dunia dalam kategori seni nonfiguratif dengan usia minimum 67.800 tahun.
Fadli menegaskan pengembangan Liangkobori harus mengutamakan pelindungan situs, berlandaskan kajian ilmiah, serta melibatkan masyarakat sebagai penjaga utama warisan budaya. Pemerintah akan mendorong percepatan penetapan kawasan sebagai cagar budaya nasional, memperkuat dokumentasi dan riset, serta menyiapkan langkah menuju pencalonan kawasan seni cadas prasejarah Muna sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Respon Daerah
Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka menyebut festival sebagai bentuk sinergi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya daerah. Ia menilai Liangkobori memiliki nilai sejarah penting dan potensi sebagai penggerak pariwisata berbasis budaya di provinsi tersebut.
Bupati Muna Bachrun menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Muna mengembangkan Liangkobori sebagai pusat penelitian, edukasi budaya, dan destinasi wisata budaya yang tetap mengedepankan prinsip konservasi. “Kami berharap Liangkobori dapat berkembang menjadi pusat penelitian, pusat edukasi budaya, sekaligus destinasi wisata budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan tetap menjaga kelestarian situsnya,” ujarnya.
Ikuti Berita7.co.id
