— Transformasi limbah tekstil kini menjadi peluang ekonomi bagi puluhan perempuan di Bogor. Sebanyak 15 ibu rumah tangga, yang sebelumnya terdampak jeratan pinjol, mendapatkan penghasilan dari pengolahan kain bekas di inisiatif yang digagas desainer circular fashion Adrie Basuki.

Ide itu bermula setelah Adrie memutuskan meninggalkan karier korporat selama 18 tahun untuk fokus pada desain berkelanjutan. Ia menciptakan produk yang disebut kain marmer, hasil olahan dari limbah tekstil, yang kemudian menjadi andalan usaha rancangannya.

Model Bisnis dan Pasar

Menurut Adrie, sekitar 50% klien usahanya berasal dari korporasi. Permintaan korporat tersebut mendorong skala produksi sehingga membuka kesempatan kerja bagi komunitas lokal yang dilibatkan dalam proses pengolahan kain.

Kampung Perca dan Pemberdayaan

Di Bogor, inisiatif yang diberi nama Kampung Perca menjadi pusat pelatihan dan produksi. Di sana, ibu-ibu diberi keterampilan mengolah potongan kain menjadi produk bernilai jual, sekaligus mendapat pendapatan tambahan untuk keluarga.

Program ini juga menargetkan perempuan korban pinjaman online predatori (pinjol) sebagai penerima manfaat utama. Adrie menyebut pemberdayaan lewat industri kreatif menjadi salah satu cara mengurangi ketergantungan mereka pada solusi pembiayaan yang merugikan.

Platform Cerita dan Dokumentasi

Kisah pembangunan usaha daur ulang kain dan pemberdayaan komunitas itu dibahas dalam episode podcast Cuan Iki, yang menggali cerita pelaku ekonomi kreatif di Indonesia. Dalam perbincangan, Adrie menguraikan perjalanan beralih dari dunia korporat ke usaha berbasis circular fashion serta tantangan operasional yang dihadapi saat membangun Kampung Perca.

Inisiatif ini menjadi contoh praktik ekonomi sirkular yang bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi kelompok rentan di masyarakat.