— Jakarta – SMK PGRI 5 Denpasar, Bali, menjadi sorotan setelah foto twibbon Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sejumlah siswi menuai kritik di media sosial karena dianggap terlalu vulgar. Sekolah merespons dengan melakukan investigasi internal dan memberikan arahan kepada siswi terkait penggantian foto.

Kepala SMK PGRI 5 Denpasar, Nuning Kurniawati, menyampaikan hasil penelusuran internal dan langkah yang diambil sekolah saat ditemui di SMK PGRI 5 Denpasar, Senin (13/7). Dia mengatakan beberapa siswi telah diberikan pembinaan.

Dalam penjelasannya, Nuning menyebut pihak sekolah sebelumnya telah memberi contoh pembuatan twibbon dan video pengenalan diri sebelum MPLS dimulai. Selain itu, panitia juga mengarahkan agar siswa memakai pakaian yang sopan, seperti seragam sekolah lama, kebaya, atau pakaian lain yang tertutup.

Nuning menegaskan sekolah tidak pernah mengarahkan siswa-siswi untuk mengenakan pakaian vulgar atau terbuka.

Dia juga menjelaskan tindak lanjut jika foto twibbon yang dipersoalkan belum diganti oleh siswi yang bersangkutan.

“Memang ada beberapa siswi itu yang (bertanya) ‘kenapa emang ada ya aturannya?’ Seperti itu, ‘emang ada ini kalau seandainya saya nggak ganti seperti itu’. Jadi memang ini akan kami lakukan pemanggilan,” kata Nuning.

Selain itu, Nuning menyatakan pihak sekolah dan Badan Pengelola Harian telah memberi penjelasan langsung.

“Tadi pagi juga saya sudah menjelaskan di depan. Begitu juga Badan Pengelola Harian dari kami, SMK PGRI 5 Denpasar. Kalau seandainya memang nanti sore (belum diganti) kami akan evaluasi lagi. Kalau masih kan kami adakan pemanggilan, seperti itu,” ucapnya.