Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi menyediakan layanan terapi wicara sebagai bagian dari upaya rehabilitasi sosial terpadu. Layanan ini dirancang untuk membantu anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan komunikasi dalam meningkatkan kemampuan berbahasa dan berinteraksi sosial.
Dukungan untuk Davi dan Anak Lainnya
Salah satu penerima manfaat program ini adalah Davi (14), seorang anak yang kemampuan bahasanya masih setara dengan anak usia tiga tahun. Melalui terapi wicara yang dijalani secara rutin, Davi menunjukkan perkembangan positif. Ia mulai belajar mengenali warna dan perlahan mampu mengucapkan kata-kata yang dapat dipahami oleh lingkungan sekitarnya.
Terapi wicara di STPL Bekasi didampingi oleh Diah Agustina (35), seorang terapis wicara berpengalaman 14 tahun yang telah bertugas di rumah terapi tersebut selama enam bulan. Sebelum memulai sesi terapi, setiap anak menjalani asesmen menyeluruh untuk memetakan kemampuan dasar mereka dan menentukan pendekatan stimulasi yang paling tepat.
Proses Terapi dan Manfaat Luas
“Kita mulai dari pengenalan warna, karena dia belum mengenal warna, lalu kita latih artikulasinya. Tidak harus 100 persen jelas, yang penting orang paham dia ngomong apa,” ujar Diah, menjelaskan proses awal terapi Davi, dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).
Diah menambahkan bahwa terapi wicara tidak hanya ditujukan bagi anak dengan keterlambatan bicara semata. Layanan ini juga mencakup anak-anak dengan kondisi lain, seperti cerebral palsy yang mengalami kesulitan mengontrol air liur (drooling), anak dengan kesulitan belajar membaca dan menulis, hingga bayi prematur yang memiliki gangguan menelan.
“Semua bisa kita stimulasi sesuai kebutuhan masing-masing pasien,” jelasnya. Meskipun mayoritas penerima layanan adalah anak-anak, terapi wicara di STPL Bekasi juga dapat diberikan kepada pasien dewasa hingga lanjut usia, menunjukkan fleksibilitas layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Semangat Terapis dan Peran Orang Tua
Semangat Diah dalam menjalankan tugasnya tumbuh dari keyakinannya terhadap potensi masa depan para penerima manfaat. “Kita lihat anak-anak ini punya masa depan yang panjang. Mereka menjalani terapi sambil ketawa, happy. Itu yang bikin kita ikut semangat membantu mereka,” ungkapnya.
Selain peran terapis, Diah menekankan pentingnya keterlibatan aktif orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Ia berpendapat bahwa interaksi yang intens dan berkelanjutan dari orang tua sangat krusial agar anak merasa didengar, diterima, dan membangun rasa percaya diri.
“Setiap anak itu istimewa dan punya jalannya masing-masing. Kadang orang tua berpikir cukup dengan membelikan mainan mahal. Padahal yang paling dibutuhkan anak itu interaksi langsung dengan orang tuanya,” tegasnya.
Diah mengingatkan bahwa mainan, sekaya apapun, tidak akan memberikan dampak optimal bagi perkembangan anak tanpa adanya pendampingan dan interaksi. “Mereka butuh didengar, dibantu, dan diterima. Itu yang paling utama,” pungkasnya.






