Berita7.co.id — Kementerian Kebudayaan meluncurkan Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026. Program ini bertujuan mendorong pembuatan film yang mengangkat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 1945–1950 serta memperkuat memori kolektif bangsa melalui medium sinema.
Mengusung tema “Menyulam Ingatan, Merawat Kebangsaan: Menghidupkan Peristiwa Sejarah 1945-1950 dalam Sinema Kontemporer”, program tersebut menempatkan film sejarah dan kepahlawanan sebagai fokus afirmasi pemerintah terhadap perkembangan perfilman bertema sejarah.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai film memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali sejarah sekaligus berfungsi sebagai media edukasi yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan. “Film adalah produk budaya yang memiliki platform yang sangat baik untuk menghadirkan edukasi sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan kebangsaan kepada masyarakat,” kata Fadli Zon dalam siaran pers pada Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan periode 1945–1950 bukan hanya soal perjuangan bersenjata, melainkan juga menyimpan kisah diplomasi, ekonomi, pers, serta gerakan seni dan kebudayaan yang belum banyak diangkat ke layar lebar. Melalui program ini, Kementerian membuka ruang bagi sineas untuk mengembangkan perspektif kreatif berlandaskan riset sejarah dan pendampingan sejarawan.
“Kita ingin membawa masa lalu ke hari ini agar tetap relevan. Ruang kreativitas sangat terbuka, tetapi konteks sejarah harus tetap terjaga melalui kolaborasi dengan para sejarawan,” tambah Fadli Zon.
Skema Program dan Mekanisme Sayembara
Direktorat Film, Musik, dan Seni menyatakan program dirancang bukan sekadar fasilitasi produksi, melainkan sebagai wadah kolaborasi antara perfilman, sejarawan, akademisi, arsiparis, penulis skenario, produser, sutradara, dan praktisi lain. Tujuannya, memadukan kreativitas sinematik dengan akurasi sejarah.
Menurut Direktur Film, Musik, dan Seni Irini Dewi Wanti, seluruh perangkat pelaksanaan telah disiapkan, termasuk pedoman, mekanisme pendaftaran, sistem seleksi, perangkat penilaian, hingga skema pendampingan. Seluruh proposal akan melalui tahapan: seleksi administrasi, penilaian dewan juri, presentasi (pitching), penetapan penerima, pengembangan proyek, hingga produksi dan monitoring.
Pelaksanaan dilakukan melalui mekanisme sayembara yang terbuka bagi rumah produksi, perusahaan perfilman, komunitas film, serta sineas Indonesia yang memenuhi persyaratan administrasi dan memiliki rekam jejak produksi film. Peserta terpilih memperoleh dukungan pendanaan serta pendampingan pengembangan skenario dan produksi oleh profesional, termasuk konsultasi dengan sejarawan dan budayawan.
Kategori dan Persyaratan
Sayembara dibuka dalam dua kategori:
- Film Panjang — durasi minimal 75 menit; memberi keleluasaan untuk mengeksplorasi tokoh, peristiwa, dan dinamika sosial masa perjuangan lewat berbagai genre.
- Film Pendek — durasi 15–30 menit; berfokus pada peristiwa sejarah tertentu sebagai titik awal pengembangan cerita.
Untuk film pendek, sejumlah peristiwa yang ditetapkan sebagai titik awal pengembangan meliputi Peristiwa Rengasdengklok, Proklamasi Kemerdekaan, Pertempuran Surabaya 10 November, Agresi Militer Belanda, Gerilya Jenderal Soedirman, Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), serta perjuangan diplomasi dan ekonomi pada masa awal republik.
Pendaftaran sayembara dibuka mulai 10 Juli hingga 10 Agustus 2026. Pendaftaran dan pengunduhan petunjuk teknis dilakukan secara daring melalui laman filmkepahlawanan.id.
Partisipasi dan Harapan
Peluncuran acara turut dihadiri pejabat Kementerian Kebudayaan serta perwakilan lembaga perfilman, sejarawan, dan budayawan. Kementerian berharap program ini melahirkan karya yang menghidupkan narasi kepahlawanan Indonesia lewat perspektif relevan, inspiratif, dan berlandaskan sejarah.
Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus mendukung ekosistem perfilman nasional melalui kolaborasi, fasilitasi, dan penguatan film sebagai media pelestarian memori kolektif bangsa.
Ikuti Berita7.co.id
