Berita7 — Investor asing kembali memburu saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) meski harga saham emiten itu melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Aksi beli asing tercatat terbesar sehingga menyorot pergerakan modal di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham BBCA sebesar Rp 251,89 miliar di pasar reguler. Nilai ini menjadi net buy asing terbesar dibanding saham lain pada hari itu.
Posisi pembelian asing kedua terbesar tercatat pada saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan net buy sekitar Rp 64,9 miliar. Di sisi lain, aksi jual asing terbesar terjadi pada PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mencapai Rp 425,6 miliar, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell Rp 142,1 miliar.
Secara agregat, investor asing merealisasikan net sell sebesar Rp 689,8 miliar pada hari yang sama. Sejalan dengan itu, total penjualan bersih asing sepanjang tahun berjalan meningkat menjadi Rp 75,4 triliun, menurut data Bursa Efek Indonesia.
Rekomendasi Analis
KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp 9.480. Penetapan target tersebut berdasarkan valuasi menggunakan Gordon Growth Model (GGM).
Target harga setara dengan estimasi price to book value (P/B) 2026 sebesar 3,8 kali, sedangkan saat ini BBCA diperdagangkan pada P/B 2026 sekitar 2,5 kali—jauh di bawah rata-rata historis. Valuasi itu juga disebut berada di bawah level minus dua standar deviasi (-2SD), yang menggambarkan valuasi relatif murah dibanding sejarah perdagangan emiten.
Sementara itu, MNC Sekuritas juga memasukkan BBCA sebagai saham pilihan utama dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 8.700. Rumah riset tersebut menilai BBCA didukung oleh profil laba yang defensif dan kualitas aset terbaik di kelasnya.
Selain BBCA, MNC Sekuritas mempertahankan PT Bank Mandiri (BMRI) sebagai saham pilihan utama dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 6.050, mengacu pada momentum laba dan PPOP yang dinilai terdepan di sektor perbankan.
Risiko yang Perlu Dicermati
Analis mengingatkan sejumlah risiko penurunan yang perlu diwaspadai, antara lain likuiditas yang makin ketat serta potensi tren kualitas aset yang lebih lemah dari perkiraan.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.