Berita7 — Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) bersama INNOWINN Internasional menggelar Indonesia Aero Summit (IAS) 2026 selama dua hari, Rabu dan Kamis, 8–9 Juli 2026 di Jakarta. Forum ini merupakan penyelenggaraan ketiga setelah acara serupa pada 2024 dan 2025 dan diikuti sekitar 300 peserta dari pemangku kepentingan penerbangan dalam dan luar negeri.
Acara dibuka oleh Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Shokib Al Rokhman, yang mewakili Direktur Jenderal Perhubungan Udara. Dalam sambutannya, Ditjen menyatakan Indonesia memiliki peluang besar menjadi kekuatan aviasi di kawasan Asia Pasifik.
Menurut Ditjen, pencapaian tersebut bergantung pada kemampuan membangun ekosistem penerbangan modern melalui kolaborasi dan investasi berkelanjutan. Untuk itu, pemerintah menyusun master plan aviasi sebagai fondasi transformasi sektor penerbangan nasional agar mampu menghadapi tantangan masa depan dan memperkuat daya saing global.
Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menekankan perlunya penguatan ekosistem penerbangan nasional untuk merespons kondisi saat ini, termasuk dampak krisis geopolitik global terhadap industri.
“Dalam Indonesia Aero Summit 2026 ini, INACA bersama-sama dengan Kementerian Perhubungan dan semua kementerian serta stakeholders penerbangan nasional yang terkait berupaya memperkuat ekosistem penerbangan nasional. Terutama di dalam merespon keadaan sekarang ini, di mana kondisi krisis geopolitik global tidak bisa memberikan daya dukung buat pertumbuhan penerbangan nasional. Melalui ekosistem tersebut kita ini harus lebih banyak berkolaborasi dan melakukan terobosan-terobosan agar konektivitas di Indonesia, baik untuk penumpang dan barang ini, bisa terus berjalan,” ujar Denon.
Menurut Denon, ekosistem yang dimaksud mencakup regulator, maskapai, pengelola bandara, pengelola navigasi penerbangan (Airnav), perusahaan Maintenance Repair Overhaul (MRO), penyedia bahan bakar, penyedia teknologi, penyedia sumber daya manusia, investor, dan penumpang.
Denon juga berharap IAS 2026 meningkatkan partisipasi pemangku kepentingan asing yang melihat Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai tujuan investasi, terutama dalam pengembangan teknologi penerbangan.
Penandatanganan Nota Kesepahaman SAF
Pada kesempatan yang sama, IAS 2026 menjadi ajang penandatanganan Nota Kesepahaman untuk pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) antara Pertamina dan Boeing. Penandatanganan dilakukan oleh President Director dan CEO Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, serta Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde.
Penandatanganan MoU ini menjadi salah satu agenda penting IAS 2026 yang relevan dengan upaya memperkuat ketahanan bahan bakar dan mendukung transformasi industri penerbangan ke arah yang lebih berkelanjutan.
Ikuti Berita7
