— Kontrak minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives mencatat kenaikan signifikan pada Rabu (8/7/2026) setelah sebelumnya sempat melemah. Lonjakan tercatat pada hampir seluruh kontrak berjangka mulai Juli hingga Desember 2026.

Penguatan harga terjadi seiring kombinasi pelemahan nilai tukar ringgit, kenaikan harga minyak nabati di China dan Amerika Serikat, serta perbaikan data pengapalan yang menunjukkan peningkatan pengiriman awal bulan.

Pendorong Kenaikan Harga

Data penutupan Bursa Malaysia pada 8 Juli 2026 menunjukkan kontrak CPO Juli naik 20 Ringgit menjadi 4.503 Ringgit per ton. Kontrak Agustus meningkat 56 Ringgit ke 4.572 Ringgit per ton.

Kontrak untuk September melonjak 62 Ringgit ke 4.609 Ringgit per ton, Oktober naik 64 Ringgit ke 4.637 Ringgit per ton, November bertambah 67 Ringgit ke 4.668 Ringgit per ton, dan Desember terkerek 69 Ringgit menjadi 4.694 Ringgit per ton.

Catatan pengiriman menunjukkan pengapalan minyak sawit Malaysia pada 1–5 Juli naik antara 10,6% hingga 11,1% dibandingkan periode yang sama pada Juni, menurut data lembaga survei kargo.

Sentimen positif juga datang dari reli harga minyak mentah dunia. Serangkaian aksi militer dan pemberlakuan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran disebut berkaitan dengan kenaikan harga minyak, sehingga meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.

Faktor yang Menahan Kenaikan

Namun, kenaikan harga CPO tidak sepenuhnya mulus. Permintaan dari India, importir minyak sawit terbesar dunia, melemah—impor pada Juni turun ke level terendah dalam 14 bulan terakhir karena permintaan lesu dan menyempitnya selisih harga dengan minyak nabati pesaing.

Selain itu, proyeksi menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia mencapai rekor tertinggi pada Juni akibat produksi yang tumbuh lebih cepat dibandingkan permintaan.

Pelaku pasar juga terlihat berhati-hati menjelang rilis laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang diharapkan memberikan data terbaru terkait produksi, ekspor, dan persediaan minyak sawit Malaysia.

Sementara itu, data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) China untuk Juni menjadi perhatian pelaku pasar, karena akan memberi petunjuk mengenai prospek permintaan dari salah satu pembeli utama minyak sawit.