Berita7 — Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mengalami tekanan selama dua hari bursa terakhir meskipun ada proyeksi target harga yang agresif dari sejumlah analis.
Pada perdagangan Rabu (8/7/2026), harga saham DEWA tercatat turun 3,87% ke level Rp 298 setelah sehari sebelumnya melemah 2,52% pada Selasa (7/7/2026). Volume perdagangan kemarin mencapai 274,68 juta saham dengan frekuensi 15.436 kali dan nilai transaksi Rp 83,33 miliar. Investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 3,93 miliar.
Di sisi teknikal, MNC Sekuritas memandang DEWA tengah berada pada bagian wave 5 dari wave (C) sehingga berisiko melanjutkan koreksi ke rentang Rp 198-224. Broker itu merekomendasikan sell on strength pada kisaran harga Rp 302-310.
Kontrak Baru Jadi Katalis Pendapatan
Perusahaan berhasil memperoleh kontrak dari PT Suku Sejaka Coal (SSC), yang beroperasi di Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Kontrak ini mencakup overburden removal (OB) sebesar 55 juta bcm dan produksi batu bara 5 juta ton, dengan potensi perpanjangan.
BCA Sekuritas menilai kontrak tersebut menjadi katalis kuat bagi lonjakan laba bersih dan pertumbuhan pendapatan DEWA, karena mencatatkan kemajuan perekrutan klien di luar Grup Bumi.
Dalam risetnya, BCA Sekuritas memperkirakan OB DEWA pada 2027 naik 27% menjadi 205 juta bcm dari estimasi 2026 sebanyak 160 juta bcm. Proyeksi itu mendukung estimasi pendapatan tahun depan tumbuh 19% menjadi Rp 7,9 triliun dan laba bersih meningkat 23% menjadi Rp 1,1 triliun.
Rekomendasi dan Target Harga Rp 800
BCA Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham DEWA dengan target harga Rp 800. Target tersebut setara dengan valuasi EV/EBITDA 11,6 kali.
Meski target optimistis, BCA Sekuritas mencatat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, antara lain kondisi cuaca yang tidak menentu, persetujuan RKAB yang bisa lebih rendah dari estimasi, pelemahan harga batu bara, keterbatasan akses pendanaan, serta risiko terkait proyek tambang emas Gayo.
Ikuti Berita7
