— PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mempercepat transformasi bisnis dengan menyederhanakan proses, memperkuat tata kelola, dan memodernisasi infrastruktur teknologi informasi. Langkah itu juga mencakup percepatan digitalisasi layanan dan optimalisasi sinergi antar unit.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyatakan transformasi diarahkan untuk menciptakan organisasi yang lebih produktif, adaptif, dan mampu menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan. BTN kini tidak lagi hanya berfokus pada pembiayaan rumah, melainkan berekspansi ke layanan keuangan yang lebih luas.

“Kami terus memperluas peran sebagai bank yang mendampingi kebutuhan finansial masyarakat di setiap tahap kehidupan, mulai dari mewujudkan kepemilikan rumah, mendukung berbagai kebutuhan gaya hidup, hingga mempersiapkan masa pensiun,” kata Nixon, Rabu (8/7/2026).

BTN membangun ekosistem perumahan terintegrasi untuk mempermudah transaksi di seluruh rantai nilai bisnis perumahan dan sektor terkait. Menurut Nixon, sinergi dalam ekosistem Danantara Indonesia menjadi pendukung utama optimisme pertumbuhan bank secara sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

Fundamental Bisnis

Manajemen menyatakan transformasi yang dijalankan konsisten mendorong perbaikan fundamental bisnis BTN di tengah dinamika ekonomi global dan industri perbankan nasional. Integrasi ke ekosistem Danantara Indonesia disebut memperkuat akselerasi transformasi melalui akses sinergi lintas sektor, efisiensi operasional lewat shared services, serta optimalisasi modal untuk ekspansi.

Nixon menambahkan bahwa BTN memperkuat struktur permodalan dan menyelaraskan kebijakan bisnis dengan agenda pembangunan nasional yang lebih terintegrasi, sehingga meningkatkan daya saing dan kemampuan eksekusi bank.

Berdasarkan laporan keuangan bulanan konsolidasi hingga Mei 2026, BTN mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1,85 triliun, naik 54,37% secara tahunan. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tercatat Rp7,13 triliun, tumbuh 15,15% (yoy).

Hingga Mei 2026, total kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai Rp403,06 triliun atau meningkat 9,97% (yoy) dibandingkan Rp366,52 triliun pada Mei 2025. Dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi tercatat Rp433,95 triliun, tumbuh 9,09% (yoy) dari Rp397,78 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

BTN juga mencatat peningkatan profitabilitas operasional. Laba operasional konsolidasi hingga Mei 2026 mencapai Rp2,39 triliun, meningkat 58,37% (yoy) dari Rp1,51 triliun pada Mei 2025. Sementara itu, pre provision operating profit (PPOP) BTN Group mencapai Rp3,98 triliun, tumbuh 20,07% (yoy) dari Rp3,31 triliun pada periode yang sama tahun lalu.