Berita7.co.id — Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang, menjadi sorotan publik belakangan ini. Peristiwa itu memicu perbandingan praktik pengelolaan sampah Indonesia dengan negara lain, termasuk Swedia yang justru mengimpor sampah sebagai bahan bakar.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wahyu Purwanta, menjelaskan beberapa faktor penyebab perbedaan tersebut dalam diskusi bertajuk “TPA Terbakar Lagi: Apa Kata Sains dan Bagaimana Mencegahnya?” di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat.
Perbedaan Kondisi Daratan
Wahyu menekankan bahwa kondisi geografis antara Indonesia dan kawasan Eropa sangat berbeda. Menurutnya, Eropa didominasi daratan dengan kepadatan infrastruktur yang memengaruhi pola pengelolaan sampah.
“Ya itu harus dipahami begini, Eropa ini daratan walau banyak negara tapi sebenarnya daratan ya kan. Jangankan sampah, ada penjara yang kosong artinya kriminal di negara ini ke sini aja gitu kan ada, iya sama dengan sampah,”
Wahyu juga menyebutkan bahwa sekitar 90% daerah di Indonesia masih menerapkan pola TPA berupa penumpukan terbuka atau open dumping. Pola ini, menurutnya, sangat rentan menyebabkan kebakaran, terutama pada musim kemarau.
Pemilahan Sampah dan Efisiensi Energi
Di Swedia, sistem pengelolaan sampah yang digunakan adalah Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Sistem ini hanya mengolah sampah yang dapat dibakar, sehingga lebih efisien secara energi karena sampah yang dibakar bersifat kering dan telah melalui proses pemilahan.
“Karena PSEL yang efisien adalah hanya yang mengolah yang hanya dapat dibakar gitu loh. Kalau di sini nanti yang kebakar sisa makanan juga akan masuk ke situ gitu loh. Akibatnya jadi efisiensi rendah,”
Wahyu menambahkan perbedaan efisiensi energi antara kedua praktik tersebut. Di negara maju yang menerapkan pemilahan efektif, efisiensi pembangkit listrik dari sampah bisa mencapai sekitar 500 sampai 600 kilowatt per ton.
“Maksud saya efisiensi rendah itu begini, kalau di negara maju yang sudah terapkan menerapkan pemilahan, itu mungkin mencapai misalnya nih 500 sampai 600 kilowatt listrik per ton,”
Sementara itu, kondisi di Indonesia—di mana sampah basah seperti sisa makanan masih bercampur dengan sampah kering seperti plastik dan kertas—menyebabkan efisiensi yang lebih rendah.
“Di kita nanti mungkin hanya 300 sampai 400 kilowatt per ton karena sampahnya tidak kering sekali gitu loh ya,”
Pernyataan-pernyataan tersebut disampaikan Wahyu dalam acara diskusi pada Kamis, 9 Juli 2026.
Ikuti Berita7.co.id
