Berita7 — PT Bach Multi Global Tbk (BACH) resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (8/7/2026). Pada hari pertama perdagangan, harga saham perusahaan grup Djarum itu melonjak hingga menyentuh auto reject atas (ARA), naik 24,43% ke Rp 550 dari harga penawaran Rp 442 per saham.
Direktur Utama BACH, Budi Kurniawan, menyatakan pencatatan perdana ini sebagai tonggak penting dalam perjalanan transformasi dan pertumbuhan perseroan. Ia menegaskan komitmen perusahaan pada integritas, keunggulan operasional, dan pemberian solusi andal bagi pelanggan di berbagai sektor industri.
Proyeksi Keuangan dan Target Pendapatan
Manajemen BACH memproyeksikan pendapatan meningkat dari sekitar Rp 1,73 triliun pada 2025 menjadi lebih dari Rp 3 triliun pada 2030, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sekitar 12%. Laba bersih diperkirakan melonjak sekitar 158% menjadi sekitar Rp 401 miliar pada akhir periode tersebut.
Setelah IPO, perusahaan menargetkan pendapatan lebih dari Rp 3 triliun pada 2030 yang akan didorong oleh ekspansi bisnis penyewaan pembangkit listrik, pengembangan energi baru, dan penguatan proyek infrastruktur telekomunikasi.
Strategi Pengembangan Bisnis
BACH menyebutkan beberapa langkah untuk mencapai targetnya, antara lain menambah kapasitas penyewaan pembangkit listrik hingga 50 MW per tahun, mengembangkan lini bisnis energi baru, meningkatkan proyek pembangunan jaringan telekomunikasi, serta memperkuat pendapatan berbasis kontrak jangka panjang (recurring income).
Perusahaan juga berencana melakukan transformasi operasional melalui digitalisasi dan peningkatan kualitas layanan pelanggan. Selain itu, BACH berharap efisiensi operasional dan penurunan beban keuangan setelah perolehan dana IPO dapat memperkuat kinerja ke depan.
Penggunaan Dana Hasil IPO
Sebelum pencatatan, BACH menawarkan 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga penawaran Rp 442 per saham, sehingga berhasil menghimpun dana sebesar Rp 307,5 miliar.
Manajemen menyatakan sekitar 70% dana tersebut akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset guna memenuhi kebutuhan penjualan dan penyewaan. Sekitar 30% sisanya dialokasikan untuk pelunasan sebagian pinjaman bank dengan tujuan memperkuat struktur permodalan dan menurunkan tingkat leverage.
“Dana yang diperoleh melalui penawaran umum perdana ini akan digunakan secara optimal untuk memperkuat kapasitas operasional, mendukung ekspansi usaha, meningkatkan daya saing perseroan, serta menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham,”
Kinerja 2025 dan Portofolio Usaha
Sepanjang 2025, BACH mencatat pendapatan sekitar Rp 1,73 triliun, tumbuh hampir 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih melonjak 97,5% menjadi sekitar Rp 155 miliar, sehingga margin laba bersih meningkat menjadi 9% dari 6,3%.
Peningkatan kinerja didorong oleh lonjakan bisnis penjualan genset yang naik lebih dari 93% secara tahunan dan pertumbuhan bisnis penyewaan genset yang meningkat lebih dari 1.200%. Segmen jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi tetap menjadi kontributor utama melalui model kontrak jangka panjang.
Pengalaman dan Jangkauan Operasi
BACH mengaku memiliki lebih dari 20 tahun pengalaman di sektor solusi energi dan infrastruktur telekomunikasi. Saat ini perseroan mengelola lebih dari 40.000 site, telah mendistribusikan lebih dari 20.000 unit genset, serta melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi dari sektor telekomunikasi, perbankan, energi, hingga pemerintah.
Ikuti Berita7
