— Analis logam mulia di Natixis, Bernard Dahdah, menjaga proyeksi harga emas di sekitar US$4.600 per troy ounce untuk akhir 2026 meski pasar sempat mencatat penurunan tajam.

Menurut Bernard, koreksi harga dari level US$5.500 menuju sekitar US$4.100 tidak mengubah fundamental bullish jangka panjang yang mendasari pasar emas.

“Perkiraan saya untuk harga emas di akhir tahun adalah US$ 4.600,” kata Bernard Dahdah.

Ia menegaskan konsistensi pandangannya meskipun harga bergerak turun. “Ketika harga emas berada di YS$ 5.500, orang-orang bertanya mengapa saya tidak menaikkan perkiraan. Saya akan menjadi analis yang cukup buruk jika saya hanya mengubah pandangan saya setiap kali angin berubah,” ucapnya.

Bernard menilai fase berikutnya dari pasar bullish akan lebih banyak didorong oleh pembelian kembali dari sektor resmi — khususnya bank sentral — ketimbang permintaan investasi spekulatif.

“Sekarang perang telah berakhir. Pada prinsipnya, saya pikir bank sentral akan mencatat rekor pembelian emas bulanan,” ujarnya, merujuk pada peran akumulasi cadangan oleh otoritas resmi.

Salah satu poin penting dalam analisisnya adalah perubahan persepsi geopolitik terhadap aset AS. Ia menyebut kemungkinan adanya rekor penjualan bulanan cadangan dalam seiring negara-negara pemegang dolar AS menilai ulang tingkat keamanannya.

“Saya tidak akan terkejut jika melihat rekor penjualan bulanan karena AS telah kehilangan citranya sebagai penjamin stabilitas internasional,” kata Bernard. “Citra telah berubah,” tambahnya.

Perubahan pandangan tersebut, menurut Bernard, akan memperkuat pergeseran jangka panjang bank sentral menuju emas sebagai bagian dari cadangan.

Selain permintaan dari sektor resmi, Bernard juga menyoroti peran China sebagai pilar permintaan yang mendukung harga. Ia memperkirakan pembelian stabil dari China akan bersinergi dengan kenaikan permintaan dari otoritas resmi untuk menjaga dasar harga yang lebih tinggi.