Berita7 — PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menargetkan produksi emas sebesar 579.000 ounce pada 2026, menjadikannya potensi output emas terbesar di antara emiten pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Manajemen juga mempertahankan panduan operasional 2026, termasuk target produksi konsentrat tembaga 900.000 dmt dengan kandungan 220.000 ton tembaga, serta prioritas pada pemanfaatan smelter untuk ekspor.
Lonjakan Kinerja Kuartal I-2026
Kinerja keuangan AMMN melesat pada kuartal I-2026 sejalan dengan perbaikan operasional. Pendapatan dilaporkan naik 37.937% menjadi US$808 juta, sementara EBITDA mencapai US$508 juta dengan margin 63%.
“Perseroan sukses membalikkan rugi US$138 juta menjadi laba bersih US$163 juta, didukung oleh ekspor konsentrat, kenaikan harga jual serta kuatnya kinerja operasional,” tulis Mirae Asset Sekuritas, merujuk data kuartal I-2026.
Fase Pertumbuhan dan Valuasi
Analis mencatat AMMN memasuki fase pertumbuhan baru pada 2026. Perkiraan laba per saham (EPS) tahun ini diproyeksikan melonjak 254% berkat penjualan mineral berkadar tinggi, normalisasi aktivitas tambang, serta tambahan kapasitas smelter dan refinery.
Meski sentimen positif meningkat, valuasi saham AMMN dinilai masih relatif murah. Saat ini perusahaan diperdagangkan pada rasio EV/EBITDA 8,26 kali, terpaut di bawah rata-rata lima tahun sebesar 21 kali—sekitar 2,2 standar deviasi lebih rendah menurut perhitungan analis.
Konsensus analis merekomendasikan buy untuk saham AMMN dengan target harga Rp6.775 per saham, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 90% dari harga penutupan Rp3.550.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.