— Jakarta – Kekerasan terhadap perempuan yang terus meningkat dianggap sebagai alarm serius dan ancaman bagi masa depan bangsa. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan perlunya langkah nyata dan masif untuk menuntaskan persoalan ini.

Lestari menyatakan bahwa respons cepat dan kebijakan yang konsisten harus segera dijalankan oleh seluruh pemangku kepentingan di pusat dan daerah.

Data Pengaduan Komnas Perempuan

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat DKI Jakarta dan Jawa Barat sebagai dua wilayah dengan jumlah pengaduan kekerasan terhadap perempuan tertinggi hingga pertengahan 2026.

Data per 30/6/2026 menunjukkan DKI Jakarta mencatat 561 kasus, disusul Jawa Barat dengan 457 kasus. Sepanjang 2026, Komnas Perempuan menerima total 1.833 pengaduan atau rata-rata 10 pengaduan per hari.

Berdasarkan analisis kekerasan berbasis gender, sebanyak 520 kasus terjadi di ranah personal, di antaranya kekerasan terhadap istri dan kekerasan dalam pacaran. Sementara di ranah publik, tercatat 320 kasus kekerasan di ruang publik, 232 kasus ranah siber, 31 kasus di tempat kerja, 31 kasus di tempat tinggal, dan 29 kasus lainnya.

Desakan Penguatan Sistem Perlindungan

Menurut Lestari, deretan catatan tersebut harus direspons pihak-pihak terkait dengan segera dan langkah yang tepat. Sapaan akrabnya, Rerie, mendorong penguatan sistem perlindungan perempuan yang menyeluruh dengan dukungan semua pemangku kepentingan di pusat dan daerah.

Dia menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan regulasi untuk melindungi setiap warga negara, namun tantangan utama adalah konsistensi implementasi regulasi tersebut di lapangan.

Rerie yang juga Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menyebut sejumlah langkah prioritas yang harus segera diwujudkan, di antaranya peningkatan kapasitas aparat dalam penanganan kasus kekerasan berperspektif korban, kolaborasi lintas sektor, hingga akses layanan pengaduan dan perlindungan hukum yang mudah dijangkau korban.

Dalam keterangannya Jumat (17/7/2026), Lestari mengatakan, “Tindak kekerasan terhadap perempuan bukan sekadar masalah rumah tangga, melainkan pelanggaran nilai-nilai kehidupan yang harus segera diatasi.”

Menutup pernyataannya, Rerie menegaskan kembali urgensi tindakan konkret: “Kondisi darurat kekerasan terhadap perempuan dan anak harus segera direspons dengan langkah nyata dan masif, sebagai bagian upaya menjalankan amanah konstitusi yang mewajibkan perlindungan bagi setiap warga negara,” pungkas Rerie.

Anggota Komisi X DPR RI itu juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama antarlembaga dan komitmen pelaksanaan agar regulasi yang ada benar-benar memberi perlindungan efektif bagi korban.