Publik Indonesia digegerkan oleh beredarnya video seorang alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS yang menyatakan ‘cukup saya WNI, anak jangan’ di media sosial. Pernyataan kontroversial ini memicu polemik dan mendapat tanggapan dari berbagai tokoh, termasuk Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Chrstie, serta anggota DPR RI.
Dalam video yang beredar, DS tampak membuka sebuah paket berisi surat dari Home Office Inggris yang menyatakan anak keduanya resmi menjadi warga negara Inggris. Ia juga memperlihatkan paspor Inggris yang diterima bersamaan.
“Ini paket bukan sembarang paket. Isinya adalah sebuah dokumen yang penting banget yang mengubah nasib dan masa depan anak-anakku. Kita buka ya,” ujar DS dalam video tersebut. Ia melanjutkan, “Ini adalah surat dari Home Office Inggris, yang menyatakan anak aku yang kedua sudah diterima jadi WN Inggris.”
DS kemudian menyatakan upayanya agar anak-anaknya kelak memiliki kewarganegaraan asing. “I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ucapnya.
Suami DS Diduga Belum Penuhi Kewajiban Kontribusi
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) telah memanggil suami DS, yang berinisial AP, seorang alumni LPDP. Pemanggilan ini terkait dugaan belum diselesaikannya kewajiban kontribusi pasca-studi.
“LPDP tengah melakukan pemanggilan kepada Saudara AP untuk meminta klarifikasi serta melakukan proses penindakan dan pengenaan sanksi sampai pengembalian seluruh dana beasiswa,” bunyi keterangan LPDP yang dirilis Minggu (22/2/2026).
LPDP menegaskan, “Apabila terbukti bahwa kewajiban berkontribusi di Indonesia belum dipenuhi.”
Ketentuan LPDP mewajibkan seluruh penerima dan alumni untuk melaksanakan masa pengabdian kontribusi di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun. DS sendiri telah menyelesaikan studi S2 dan lulus pada 31 Agustus 2017, serta menuntaskan masa pengabdiannya. Namun, suaminya, AP, diduga belum memenuhi kewajiban tersebut.
Wamen Stella: Beasiswa Adalah Utang Budi
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Chrstie menanggapi viralnya alumni LPDP tersebut. Ia menekankan bahwa setiap beasiswa dari negara merupakan utang budi.
“Saya pernah dikecam netizen ketika mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemdiktisaintek bahwa beasiswa adalah utang. Namun kenyataannya memang demikian: setiap beasiswa dari negara adalah utang budi,” kata Stella saat dikonfirmasi, Minggu (22/2/2026).
Stella menilai polemik ini mencerminkan kegagalan moral pada tahap awal. Ia berpendapat bahwa pembatasan sistem beasiswa yang berlebihan tidak serta merta menyelesaikan masalah.
“Kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan. Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. Di sinilah letak persoalannya,” ungkap Stella.
Ia menambahkan, “Pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis: penerima beasiswa menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban. Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan-memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa.”
Stella menyoroti dedikasi ilmuwan diaspora Indonesia yang berkontribusi bagi bangsa dan mengingatkan bahwa rasa syukur kepada negara dapat berbentuk beragam.
“Contoh-contoh baik ini perlu disorot Prof. Vivi Kashim di Tiongkok, Prof. Sastia Putri di Jepang, Prof. Haryadi di Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk,” ungkapnya.
Stella memberikan tips bagi penerima beasiswa negara, salah satunya adalah fokus pada kemanfaatan bagi individu di Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia di rumah untuk menanamkan kebanggaan berbahasa.
“Kemampuan berbahasa Indonesia tidak pernah menjadi beban, bahkan bisa menjadi senjata ampuh! Di keluarga saya, bukan hanya anak saya yang diwajibkan berbahasa Indonesia, tetapi suami saya yang berasal dari Polandia pun diharuskan bisa Bahasa Indonesia,” tegasnya.
Anggota DPR: Pernyataan DS Tidak Etis
Anggota Komisi XI DPR RI, Melchias Markus Mekeng, menilai pernyataan DS tidak etis dan kurang pantas disampaikan ke publik.
“Saya sih menyayangi ya kepada orang yang terima LPDP itu. Dapat beasiswa itu satu keberuntungan, dan itu kan uangnya kan dari negara. Iya kan? Dan negara itu kan dari rakyat juga. Jadi itu dari rakyat, dari mulai seluruh Indonesia dari Papua sampai Aceh sana masuk semua ke APBN dan ada program LPDP itu. Itu satu. Jadi mestinya ada rasa lah,” kata Mekeng saat dihubungi, Minggu (22/2/2026).
Mekeng menyatakan, meskipun setiap orang berhak menentukan kewarganegaraan, pernyataan DS terkesan merendahkan bangsa Indonesia.
“Terus yang kedua, bahwa ada kata-kata dia ‘udahlah yang jadi WNI saya aja, anak-anak nggak usah’. Itu juga kurang etis ya. Itu memang hak setiap orang untuk menentukan pilihannya menjadi warga negara, tapi tidak perlu diucapkan ke publik hal-hal yang demikian. Itu kan menyakiti, ya. Seolah-olah kita ini bangsa yang kelasnya ya di bawah itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki kebanggaan tersendiri dengan budaya, adat istiadat, dan leluhur yang harus dijaga. “Kita kan punya kebanggaan juga kepada bangsa kita. Dengan segala kelebihan dan kekurangan kan kita punya kebanggaan kan? Kita punya budaya, kita punya adat istiadat. Kita punya leluhur, kita harus jaga itu semua. Jadi juga jangan merendahkan bangsanya dengan membuat statement-statement yang menurut hemat saya itu tidak, tidak pantas lah,” ungkap Mekeng.
Mekeng berharap DS menyadari posisinya dan tidak membuat pernyataan negatif di publik, terutama mengingat ia adalah penerima beasiswa dari negara. “Jadi, itu hak dia mau menentukan, mau jadi warga negara apapun, itu haknya. Tapi tidak perlu membuat statement yang satir, yang miris, nyinyir begitu. Apalagi dia mendapatkan program LPDP. Gitu loh. Yang dibiayai oleh negara. Jadi ya, ya mestinya sadar diri lah menurut saya,” ujar Mekeng.
“Nggak semua orang bisa gitu. Banyak orang yang berkeinginan tapi nggak semua orang bisa dapat kan? Ya kalau udah dapat bersyukur dong. Bersyukur dan ya kalaupun tidak mau berterima kasih, tidak usah membuat statement-statement yang nyinyir. Apalagi merendahkan bangsanya,” imbuhnya.





