Warga mengeluhkan kondisi trotoar di kawasan Glodok, Jakarta Barat, yang kini dipenuhi lapak pedagang kaki lima (PKL) dan parkir liar sepeda motor. Akibatnya, pejalan kaki merasa tidak nyaman dan terpaksa berjalan di badan jalan, terutama saat kawasan tersebut ramai pengunjung.
Acong (56), salah seorang warga, menyatakan bahwa trotoar di Glodok sudah tidak ramah bagi pejalan kaki. Ia mengaku hanya mengunjungi kawasan tersebut pada momen tertentu, seperti menjelang Imlek, untuk membeli perlengkapan dan makanan.
Kondisi Membahayakan Saat Ramai
“Terus terang memang sudah tidak nyaman buat pejalan kaki. Trotoarnya banyak dipakai pedagang dan motor parkir. Jadi orang jalan harus turun ke badan jalan,” kata Acong saat ditemui di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, situasi menjadi semakin berbahaya ketika arus pengunjung membludak. Pejalan kaki harus berebut ruang di antara kendaraan bermotor yang melintas di badan jalan.
“Mengganggu sekali. Apalagi kalau lagi ramai seperti ini, kita harus cari celah. Kadang malah berbahaya karena mau nggak mau turun ke jalan, diklakson sama motor mobil,” ujarnya.
Penertiban Belum Efektif
Acong mengaku sempat menyaksikan upaya penertiban yang dilakukan oleh petugas Satpol PP beberapa waktu lalu. Namun, lapak PKL dan parkir liar sepeda motor kembali bermunculan setelahnya.
“Iya, saya lihat sempat ditertibkan. Tapi besoknya balik lagi. Memang perlu pengawasan rutin,” katanya.
Ia sebenarnya tidak mempermasalahkan keberadaan PKL, asalkan mereka ditata dengan baik dan tidak mengambil hak pejalan kaki. Menurutnya, trotoar seharusnya difungsikan secara eksklusif untuk pejalan kaki.
“Saya tidak masalah dengan PKL, tapi harus ada tempat khusus. Jangan ambil hak pejalan kaki. Trotoar kan memang untuk orang jalan, masa dipakai jualan. Belum lagi dekat wajan penggorengan lah, yang bakar-bakar, itu bahaya,” tuturnya.
Parkir Liar dan Juru Parkir Tidak Resmi
Selain PKL, parkir liar juga menjadi sorotan. Acong menyebutkan banyak motor yang naik ke trotoar dan keberadaan juru parkir yang tidak resmi.
“Nah, itu juga masalah. Banyak motor naik ke trotoar, banyak tukang parkir yang bukan resmi. Harusnya ada tempat parkir resmi. Jujur saya nggak suka lihatnya,” ucapnya.
Acong berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat melakukan penataan ulang kawasan Glodok agar trotoar dapat kembali ke fungsi awalnya. Ia juga menekankan pentingnya penertiban yang dilakukan secara konsisten.
“Semoga trotoar dikembalikan fungsinya. PKL ditata, parkir ditertibkan, dan ada petugas yang rutin jaga. Jangan cuma kadang foto doang buat laporan ke bos, habis itu ditinggal. Biar pejalan kaki aman dan nyaman,” pungkasnya.
Kondisi trotoar di Glodok, Jakarta Barat, yang dipadati lapak PKL dan parkir liar sepeda motor, Sabtu (14/2/2026). (Foto: Belia/detikcom)
Simak juga video respons Pramono mengenai parkir liar di Tanah Abang yang mengenakan tarif Rp 60 ribu.






