JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa tiga daerah di Provinsi Aceh masih berstatus tanggap darurat bencana. Ketiga wilayah yang dimaksud adalah Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kabupaten Pidie Jaya. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto, dalam rapat kerja bersama Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (3/2/2026).
Transisi Menuju Pemulihan
Secara umum, Suharyanto menjelaskan bahwa wilayah yang terdampak bencana di Sumatera telah memasuki fase transisi darurat menuju pemulihan. Namun, ia menegaskan bahwa di Aceh, ketiga kabupaten tersebut masih memerlukan penanganan lebih lanjut dalam status tanggap darurat.
“Jadi tidak ada lagi di tiga provinsi semuanya tiga-tiganya sudah mencabut status tanggap darurat. Jadi semuanya masuk transisi darurat menuju pemulihan, meskipun di Aceh masih ada tiga kabupaten kota yang masih tanggap darurat, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Pidie Jaya,” ujar Suharyanto.
Dampak Bencana Sumatera
Bencana yang melanda Sumatera dilaporkan telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan. BNPB mencatat total korban meninggal dunia mencapai 1.204 jiwa. Selain itu, tercatat pula 140 orang hilang dan lebih dari 105.000 warga mengungsi.
Suharyanto menambahkan bahwa operasi pencarian dan pertolongan untuk korban hilang telah dihentikan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama tim gabungan, seiring dengan masuknya masa transisi menuju pemulihan.
“Jadi yang meninggal dunia tiga provinsi 1.204, hilang 140, mengungsi 105.000 lebih. Ini yang hilang sudah tidak ada lagi operasi pencarian pertolongan, sudah dihentikan oleh Basarnas, oleh tim gabungan, karena sekarang sudah masuk masa transisi menuju pemulihan,” jelasnya.
Pengerahan Personel dan Alat
Hingga kini, BNPB masih menempatkan personel di sejumlah wilayah yang terdampak bencana, khususnya di Aceh yang masih memerlukan penanganan intensif. Pengerahan sumber daya meliputi 22 pesawat, baik helikopter maupun fixed wing, serta 2.704 unit alat berat yang masih beroperasi di lapangan.
“Kami mengerahkan 22 pesawat baik yang helikopter maupun fixed wing. Kemudian alat berat yang sekarang masih beroperasi di sana ada 2.704 unit. Kemudian juga alat-alat yang lain termasuk kapal laut ya,” tutur Suharyanto.






