— Peristiwa cekcok antara seorang penjahit dengan pelanggan perempuan di Badung, Bali, yang videonya viral di media sosial, telah menimbulkan kehebohan. Insiden ini diduga dipicu oleh kekecewaan pelanggan terhadap pakaiannya yang belum selesai dikerjakan sesuai janji.

Kejadian tersebut terjadi di sebuah tempat usaha jahit pakaian di Jalan Raya Subang, Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali. Menurut keterangan, pelanggan tersebut menitipkan tiga potong pakaian untuk dikecilkan pada 30 Juni 2026. Penjahit awalnya menyanggupi pakaian tersebut selesai keesokan harinya, 1 Juli 2026. Namun, janji tersebut diduga tidak ditepati, membuat pelanggan kecewa dan meminta pengembalian uang serta pakaiannya.

Penolakan permintaan pelanggan memicu situasi memanas. Dalam video yang beredar, penjahit tersebut diduga melontarkan kata-kata kasar menggunakan bahasa Bali dan bahkan mengancam akan mendatangkan ‘tukang pukul’. Pelanggan juga mengaku disiram sisa makanan dan diancam menggunakan tongkat.

Ni Made Tiadnyani, pemilik usaha jahit Sintya Tailor, buka suara mengenai peristiwa tersebut. Ia mengakui telah melontarkan kata-kata kasar yang disebutnya keluar secara spontan karena terbawa emosi. “Sebenarnya saya nggak bermaksud mengejek atau menghina orang. Itu saya ucapkan karena murni kesal, marah. Saya akui salah mengucap itu tapi murni ada penyebabnya,” ujarnya saat ditemui.

Sintya menjelaskan bahwa emosinya terpancing karena ia dicaci maki lebih dulu saat sedang makan oleh pelanggan yang usianya jauh lebih muda. “Saking emosinya, saya lagi makan dimarahi, dicaci maki. Saya sudah minta maaf dan minta biar menunggu 15 menit saja, tapi dia tidak sabar. Sudah tua malah tiang dimarahi,” tuturnya.

Ia membenarkan adanya keterlambatan pengerjaan pesanan yang dilakukan secara bertahap. Namun, ia mengakui beberapa baju belum sempat dikerjakan karena tumpukan pesanan kebaya. “Istilahnya ada saja yang ketinggalan. Saya sudah kasih tahu waktu buat nunggu 15 menit saja. Ya sesuai video itu dah, saya kerjakan,” lanjutnya.

Sintya memaparkan bahwa total biaya pengerjaan untuk tiga baju milik kekasih pelanggan tersebut sebenarnya mencapai Rp 75.000. Biaya servis potong dan perbaikan jahit masing-masing Rp 25.000, sedangkan milik pelanggan perempuan hanya Rp 10.000.

Ia menyadari bahwa amarahnya hingga melontarkan kata kasar dan berbau SARA terjadi secara spontan akibat kekesalan. Sintya menegaskan tidak berniat melakukan pengancaman dan emosinya diakui hanya sesaat. Ia juga telah bertemu dengan kekasih pelanggan tersebut dan keduanya saling bermaafan. Kemeja yang sudah diservis telah diserahkan, namun satu kemeja milik pelanggan perempuan tersebut belum diambil hingga kini.