Jakarta – Banjir yang melanda kawasan Jalan Mangga Dua Raya, Jakarta Barat, tidak menyurutkan semangat sejumlah pedagang kaki lima untuk tetap berjualan. Keputusan ini diambil lantaran bahan-bahan dagangan sudah terlanjur diolah.
Kisah Juned, Pedagang Mi Ayam di Tengah Genangan
Salah satu pedagang yang gigih adalah Juned (65), penjual mi ayam yang mangkal di Jalan Mangga Dua Dalam. Ia menceritakan berbagai kendala yang dihadapi saat melayani pembeli di tengah genangan air. “Ya, saya tanggung sekalian udah masak, tanggung gitu. Kalau pagi ke pasar udah hujan gede, saya nggak mau (jualan). Ini gerimis doang ke pasar setengah 6,” ujar Juned kepada wartawan, Senin (12/1/2026).
Juned menjelaskan bahwa banjir mulai menggenang sekitar pukul 08.00 WIB, setelah hujan deras mengguyur sejak dini hari. Perjalanan menuju lokasi berjualan pun tidak mudah. “Muter-muter iya, saya juga susah lewat jalannya (karena banjir tinggi),” tuturnya.
Akibat banjir yang membuat aktivitas warga terganggu, Juned mengaku pembeli sangat sepi. Ia berharap kondisi segera normal. “Ya, sepi lah. Orang banyak yang libur, karyawannya. Biasanya udah habis jam segini. Sekarang mah separonya aja belum,” keluhnya.
Fahmi: Banjir Akibat Hujan Berkelanjutan dan Topografi Rendah
Sementara itu, Fahmi (50), seorang juru parkir di kawasan Mangga Dua, memberikan gambaran kronologi banjir di area tersebut. Ia sudah berada di lokasi sejak pukul 05.30 WIB.
“Hujan nggak terlalu gede dari Subuh tapi nggak berhenti gitu, terus-terusan. Banjir-banjir jam delapan,” kata Fahmi.
Ia menjelaskan bahwa air berasal dari kawasan Mangga Dua Dalam dan Ancol yang kemudian mengalir ke Jalan Mangga Dua Raya karena daerah tersebut memiliki kontur yang lebih rendah. “Kalau awal sih dari sana (Mangga Dua Dalam). Berhubung di (Mangga Dua Raya) sini kan daerahnya rendah ya, ini paling rendah jadi air dari sana (Mangga Dua Dalam) sama dari sana (Ancol) pada turun ke sini,” paparnya.
Tinggi banjir sempat mencapai hampir 60 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa. “Tadi sempat hampir 60 sentimeter ya, sedengkul,” tambahnya.
Fahmi juga merasakan dampak penurunan jumlah kendaraan yang parkir. Banyak karyawan yang tidak masuk kerja akibat banjir. “Sepi, karena sebagian diliburin karyawan. Biasanya lebih banyak sekitar 120-an motor tiap hari stabil segitu. Kalau hari ini cuma tadi saya hitung ada 38 motor, itu karyawan,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Fahmi tetap bersyukur dapat membawa pulang hasil jerih payahnya untuk keluarga. “Yang penting masih bisa bawa uang pulang ke rumah buat istri buat anak,” ucapnya.






