Berita7.co.id — Gempa berkekuatan magnitudo 9,2 yang mengguncang Prince William Sound, Alaska, pada 27 Maret 1964 menjadi salah satu bencana alam paling dahsyat dalam sejarah Amerika Serikat. Guncangan berlangsung sekitar 4–4,5 menit dan memicu tsunami besar yang menyebabkan 131 korban jiwa.
Peristiwa itu tercatat terjadi sekitar pukul 17.36 waktu setempat menurut data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Sebagian besar korban tewas—119 orang—diakibatkan oleh tsunami yang dipicu oleh longsoran bawah laut, bukan oleh guncangan gempa langsung.
Skala Kerusakan dan Perubahan Permukaan
Gempa menimbulkan perubahan permukaan tanah yang luas. Sejumlah daerah pantai mengalami penurunan hingga 8 kaki (sekitar 2,4 meter), sementara area lain terangkat sampai 38 kaki (sekitar 11 meter). Banyak bagian pesisir Alaska bergeser ke laut setidaknya sejauh 50 kaki (sekitar 15 meter).
Dampak langsung meluas dari Kepulauan Kodiak hingga California Utara. Di Anchorage—kawasan dengan populasi terbanyak di Alaska—terjadi kerusakan bangunan yang parah. Selain gempa utama, bencana ini memicu rangkaian gempa susulan, ratusan tanah longsor, dan deformasi tanah.
Perekaman Global dan Kerugian Ekonomi
Getaran akibat gempa begitu besar hingga tercatat pada alat pencatat level air di 47 negara bagian Amerika Serikat. Guncangan terasa hingga Seattle, lebih dari 1.200 mil (sekitar 1.930 km) dari pusat patahan. Total kerugian properti diperkirakan mencapai US$3,1 miliar dalam nilai dolar tahun 2024.
Warisan Untuk Mitigasi Bencana
Peristiwa 1964 menjadi sumber data penting bagi penelitian ilmu kebumian. Informasi dari kejadian itu berkontribusi terhadap pemahaman tentang lempeng tektonik, fenomena likuifaksi, dan mekanisme tsunami.
Selain kontribusi ilmiah, peristiwa ini mendorong pembentukan sistem peringatan dini seperti NOAA Tsunami Warning System dan memicu revisi pada kode bangunan untuk meningkatkan ketahanan terhadap gempa dan tsunami.
Ikuti Berita7.co.id
