Berita7.co.id — Tragedi Armero pada 1985 tercatat sebagai salah satu bencana paling dahsyat di abad ke-20. Letusan Gunung Nevado del Ruiz di Kolombia memicu aliran lahar dingin yang menewaskan lebih dari 25.000 orang, termasuk hampir seluruh penduduk kota Armero.
Gunung Nevado del Ruiz adalah stratovulkan setinggi 5.389 meter yang puncaknya ditutupi gletser, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Aktivitas gunung mulai meningkat sekitar setahun sebelum bencana, ditandai dengan rentetan gempa dan keluarnya uap serta gas dari kawah.
Pada 11 September 1985 tercatat letusan eksplosif kecil. Setelah kejadian itu, pejabat pemerintah dan ilmuwan sempat menggelar pertemuan untuk membahas potensi bahaya dan rencana evakuasi. Namun sebagian besar wilayah, termasuk kota Armero, tetap rentan.
Malapetaka terjadi pada malam 13 November 1985. Saat kebanyakan warga tertidur, hujan badai menyamarkan aktivitas vulkanik sehingga letusan tidak disadari. Lahar dingin mengalir deras melalui lembah sungai menuju dataran di utara dan timur kaki gunung.
Banjir lahar mencapai Armero sekitar dua jam setelah letusan. Dalam hitungan menit, kota itu dihantam campuran lumpur dan puing bangunan. Sekitar 23.000 jiwa—hampir seluruh penduduk kota pada saat itu—dilaporkan tewas seketika. Secara keseluruhan korban meninggal diperkirakan lebih dari 25.000 orang.
Faktor Kegagalan Mitigasi
Peristiwa ini kemudian menjadi bahan evaluasi atas komunikasi risiko dan kesiapsiagaan. Pada masa itu pemerintah Kolombia tengah terganggu oleh konflik yang melibatkan gerilya di ibu kota, sehingga perhatian dan sumber daya dialihkan ke isu politik yang dinilai lebih mendesak.
Selain itu, komunitas ilmiah di Kolombia kekurangan peralatan, kapasitas teknis, dan dukungan yang memadai untuk memantau aktivitas gunung secara optimal. Kondisi itu membatasi kemampuan mereka menyampaikan peringatan dan rekomendasi mitigasi secara efektif kepada otoritas dan masyarakat.
Tragedi Armero tetap menjadi pengingat pentingnya pemantauan vulkanik, koordinasi antarlembaga, dan komunikasi yang jelas kepada masyarakat yang tinggal di zona bahaya.
Ikuti Berita7.co.id
