— Erupsi dahsyat Gunung Laki di Islandia pada tahun 1783-1784 tercatat sebagai salah satu letusan lava basaltik terbesar dalam sejarah manusia. Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada Islandia, tetapi juga menimbulkan efek lingkungan dan iklim yang signifikan di seluruh dunia, khususnya Eropa.

Letusan yang berlangsung selama delapan bulan, dari 8 Juni 1783 hingga 7 Februari 1784, menghasilkan sekitar 14,7 kilometer kubik lava. Selama periode tersebut, gunung berapi ini melepaskan sekitar 122 megaton sulfur dioksida ($SO_2$) ke atmosfer. Kolom gas dan abu vulkanik membubung setinggi 9 hingga 13 kilometer, mencapai lapisan troposfer atas dan stratosfer bawah.

Dampak paling mengerikan dari letusan ini adalah terbentuknya kabut belerang yang sangat tebal, dikenal sebagai “kabut kering” (dry fog). Kabut beracun ini menyelimuti sebagian besar Belahan Bumi Utara, termasuk Eropa, Afrika Utara, dan Asia, selama lebih dari lima bulan. Di Eropa, kabut ini menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius, mulai dari gangguan pernapasan, sakit kepala, serangan asma, hingga peningkatan angka kematian di sejumlah wilayah.

Selain dampak kesehatan, letusan Laki juga memicu anomali sirkulasi udara yang menyebabkan lonjakan suhu ekstrem. Juli 1783 tercatat sebagai musim panas terpanas dalam sejarah Eropa Barat. Sebaliknya, musim dingin 1783-1784 menjadi salah satu yang paling ekstrem dan mematikan di Eropa serta Amerika Utara. Dalam dua hingga tiga tahun berikutnya, suhu tahunan global dilaporkan turun sekitar 1,3 derajat Celsius.

Di Islandia, bencana vulkanis ini menyebabkan kelaparan hebat yang merenggut nyawa sekitar 20% populasi. Lebih dari 60% hewan ternak juga mati akibat keracunan fluorosis kronis yang disebabkan oleh abu vulkanis yang mencemari rumput.