JAKARTA – Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak pemerintah untuk memastikan rehabilitasi dan revitalisasi sarana serta prasarana pendidikan di Sumatera rampung sebelum Hari Raya Idulfitri. Desakan ini muncul menyusul masih adanya siswa yang terpaksa belajar di tenda darurat akibat bencana alam yang melanda wilayah tersebut.
Percepatan Rehabilitasi Sekolah
Wakil Ketua Komisi X, Lalu Hadrian, menyatakan bahwa dalam rapat koordinasi terakhir bersama para menteri dan satgas penanggulangan bencana, pihaknya telah menyampaikan permintaan tegas agar proses rehabilitasi sekolah dapat diselesaikan sebelum Lebaran. “Kami meminta agar sebelum lebaran, proses rehabilitasi dan revitalisasi khususnya sarana dan prasarana pendidikan harus sudah tuntas. Itu kami meminta itu. Dan Kemendikdasmen siap untuk itu,” ujar Lalu Hadrian di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesiapan pemerintah daerah dalam mengimplementasikannya di lapangan. Menurutnya, seringkali terjadi ketidaksesuaian antara perencanaan awal dengan kondisi riil di lapangan.
“Tinggal sekarang bagaimana pemerintah daerah bersama-sama untuk mensukseskan ini. Karena yang terjadi mohon maaf, perencanaan sudah ada, ternyata di lapangan tidak sesuai dengan perencanaan,” jelasnya.
Meskipun demikian, Komisi X tetap meminta agar segala kendala yang ada dapat segera diatasi. “Tetapi kami minta apapun itu kendalanya, harus segera dituntaskan. Minimal sebelum Lebaran ini sudah bisa tuntas, khusus bidang pendidikan. Supaya tidak mengganggu proses belajar mengajar,” tegas Lalu Hadrian.
Kendala Lapangan dan Solusi
Lalu Hadrian juga mengakui adanya kendala di lapangan, seperti kondisi cuaca buruk yang menghambat proses pembangunan. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan untuk menyelesaikan perbaikan sebelum Lebaran tetap harus dijalankan.
“Terutama kondisi lapangan. Kan ternyata ketika mau dibangun hujan lagi, lumpur, dan sebagainya. Nah itu. Banyak faktor lah,” tuturnya.
Kondisi Pembelajaran Pasca-Bencana
Sebelumnya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa kegiatan belajar mengajar di tiga provinsi terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, secara umum telah kembali berjalan 100%. Namun, ia mengakui bahwa proses pembelajaran belum sepenuhnya ideal.
“Kami sampaikan secara umum bahwa kegiatan pembelajaran di tiga provinsi terdampak bencana sudah berlangsung 100%, hanya saja memang pembelajaran belum berlangsung secara ideal,” kata Abdul Mu’ti dalam rapat bersama pimpinan DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2).
Ia merinci bahwa sebagian siswa masih terpaksa belajar di tenda darurat atau menumpang di sekolah lain.
“Sebagian masih belajar di tenda atau di kelas darurat dan sebagian menumpang di sekolah lain,” sambungnya.
Menurut data yang disampaikan Abdul Mu’ti, jumlah sekolah yang telah kembali belajar di sekolah asal adalah 3.001 di Aceh, 626 di Sumatera Barat, dan 1.104 di Sumatera Utara. Sementara itu, jumlah sekolah yang masih menggunakan tenda darurat tercatat 52 di Aceh, 21 di Sumatera Barat, dan 26 di Sumatera Utara.
Terdapat pula sekolah yang masih menumpang di sekolah lain, yaitu 20 sekolah di Aceh dan 2 sekolah di Sumatera Barat.
Secara total, jumlah siswa yang terdampak di Aceh mencapai 3.073, di Sumatera Barat 649, dan di Sumatera Utara 1.180.
“Kami sampaikan bahwa belajar di tenda atau kelas darurat saat ini tersisa 99, sebagian sudah kembali ke sekolah asal karena proses pembersihan sudah selesai. Sisanya merupakan sekolah yang kondisinya ruang kelasnya sudah tidak bisa digunakan,” jelas Abdul Mu’ti.





