Berita

Ketua Komisi III DPR: Ayah Bunuh Pelaku Pelecehan Anak Tak Layak Divonis Mati

Advertisement

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyoroti kasus seorang ayah berinisial ED di Pariaman, Sumatera Barat, yang menjadi tersangka pembunuhan setelah menikam pelaku pelecehan terhadap anaknya. Habiburokhman menyatakan empati mendalam terhadap ED.

Seruan Perlakuan Adil

“Komisi III menyerukan perlakuan yang adil terhadap Pak ED, seorang ayah yang membunuh F, pelaku kekerasan seksual kepada anaknya di Pariaman, Sumatera Barat. Kami sangat berempati pada Pak ED,” ujar Habiburokhman dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2/2026).

Ia menegaskan bahwa tindakan pembunuhan tidak dapat dibenarkan. Namun, penegakan hukum terhadap ED harus mempertimbangkan situasi yang dialaminya.

“Walaupun perbuatan membunuh tidak dapat dibenarkan, tapi harus juga didalami situasi yang menyebabkan Pak ED melakukan pembunuhan, yaitu situasi yang terguncang mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan seksual selama bertahun-tahun oleh F,” jelasnya.

Pertimbangan Hukuman Berdasarkan KUHP Baru

Habiburokhman berpendapat ED tidak seharusnya dijatuhi hukuman mati. Ia merujuk pada KUHP baru yang mengatur penjatuhan hukuman harus mempertimbangkan motif hingga sikap batin pelaku.

“Bahkan jika nanti terbukti Pak ED melakukan pembelaan terpaksa yang melampaui batas yang langsung disebabkan keguncangan jiwa yang hebat, maka berdasarkan Pasal 43 KUHP baru Pak ED tidak dipidana. Setidaknya terhadap Pak ED tidak dapat dikenakan hukuman mati atau seumur hidup karena berdasarkan Pasal 54 KUHP dalam penjatuhan hukuman harus dipertimbangkan motif dan tujuan pidana dan sikap batin pelaku tindak pidana,” paparnya.

Advertisement

Kronologi Kasus yang Menjerat ED

Kasus ini bermula ketika F (38) ditemukan tergeletak di area tepi jurang di Korong Koto Muaro, Nagari Gasan Gadang, Kecamatan Batang Gasan. Tim Satreskrim Polres Pariaman mengamankan pria berinisial E, yang diduga pelaku pembunuhan, pada Jumat (14/11/2025). E adalah ayah dari NB (17), yang sebelumnya melaporkan dugaan pelecehan oleh F.

Peristiwa ini berawal dari laporan keluarga NB ke Polres Pariaman pada 23 September 2025. Keesokan harinya, F ditemukan kritis dan sempat dilarikan ke RSUD Lubuk Basung, namun meninggal dunia. Dari penyelidikan, polisi menemukan dugaan F melakukan pelecehan terhadap NB. NB juga mengaku mengalami perlakuan serupa dari pria berinisial N.

Kapolres Pariaman saat itu, AKBP Andreanaldo Ademi, menyatakan dugaan pencabulan oleh F terjadi sejak 2022. Kasus yang melibatkan N segera dilimpahkan ke jaksa. N dijerat pasal perlindungan anak dan mengakui perbuatannya yang dilakukan sejak awal Agustus hingga September 2025. Perbuatan N dipergoki keluarga korban, dan barang bukti yang ditinggalkan N saat penangkapan pada 27 September 2025 menjadi alat bukti.

Polisi menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan dua perkara yang saling berkaitan: penusukan terhadap F dan pencabulan terhadap NB.

Advertisement