Berita7.co.id — Kementerian Sosial melalui Sentra Phalamartha Sukabumi terus melakukan asesmen dan pendampingan terhadap H, anak berusia 11 tahun yang kerap membuka tangki sepeda motor warga untuk mencium bau bahan bakar minyak (BBM). Kunjungan bertujuan memantau perkembangan, mengevaluasi intervensi, dan menyusun rencana layanan lanjutan.
Kepala Sentra Phalamartha Sukabumi, Febraldi, menegaskan kementerian berkomitmen memberi layanan rehabilitasi sosial terintegrasi dengan melibatkan berbagai pihak. “Setiap anak memiliki hak untuk tumbuh, berkembang, dan memperoleh perlindungan serta layanan sesuai kebutuhannya,” ujar Febraldi dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7/2026).
Hasil Asesmen dan Kondisi Keluarga
Berdasarkan asesmen, H merupakan penyandang disabilitas sensorik dengan hambatan pendengaran dan bicara. Setelah kedua orang tua meninggal pada 2025, H diasuh oleh kakak kandungnya.
Tim asesmen mencatat keterbatasan ekonomi keluarga sehingga pengawasan belum optimal karena kondisi pekerjaan wali. H juga mengalami hambatan komunikasi karena belum menguasai bahasa isyarat, sehingga kesulitan menyampaikan kebutuhan dan emosi.
Perkembangan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan
Sejak bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan mengikuti pembelajaran rutin, tim melihat perkembangan perilaku positif. Perilaku mengambil barang milik orang lain, memasuki rumah warga tanpa izin, merusak barang, dan meludah sembarangan dilaporkan berkurang.
Meski demikian, kebiasaan mencium bau BBM masih berulang sehingga memerlukan penanganan berkelanjutan karena berpotensi membahayakan keselamatan anak. H saat ini menjalani pengobatan secara rutin dengan dokter spesialis kedokteran jiwa melalui layanan rawat jalan serta penanganan lanjutan oleh dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan sesuai rujukan medis.
Rencana Intervensi dan Koordinasi Lintas Sektor
Kementerian Sosial menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Sukabumi, puskesmas, tenaga kesehatan, psikolog, pihak sekolah, dan keluarga untuk menyusun intervensi komprehensif sesuai kebutuhan H. Hasil pemeriksaan medis lanjutan akan menjadi dasar penentuan bentuk layanan rehabilitasi sosial yang tepat.
Jika asesmen menunjukkan perilaku berisiko terus berulang dan keselamatan H belum terjamin melalui pengasuhan berbasis keluarga, kementerian akan mempertimbangkan rujukan ke sentra rehabilitasi yang ramah anak dan memiliki kapasitas melayani anak penyandang disabilitas pendengaran dan bicara.
Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung pemulihan, pengembangan kemampuan komunikasi, pembinaan perilaku, serta penguatan fungsi sosial H dengan tetap melibatkan keluarga dalam proses rehabilitasi.
Ikuti Berita7.co.id
