— Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara konsisten memperluas layanan bagi anak-anak dan warga lanjut usia (lansia) guna mewujudkan kota yang inklusif. Berbagai program mulai dari pendidikan, ruang publik, perlindungan sosial, layanan kesehatan, hingga kemudahan transportasi disiapkan agar pembangunan kota dapat dinikmati oleh seluruh generasi.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa Jakarta yang terus bergerak menuju kota global harus tetap menyediakan ruang aman, akses layanan, dan kesempatan bagi setiap warganya untuk berkembang sesuai kebutuhan. “Pemerintah DKI Jakarta akan terus memastikan Jakarta benar-benar menjadi provinsi yang ramah anak. Sejak 2022, Jakarta merupakan salah satu provinsi yang secara konsisten meraih predikat Provinsi Layak Anak,” ujar Pramono saat menghadiri Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 tingkat Provinsi DKI Jakarta di Balai Kota, Senin (20/7/2026).

Perluasan Akses Pendidikan Anak

Upaya membangun Jakarta yang ramah anak diwujudkan melalui perluasan akses pendidikan, penyediaan ruang bermain, serta penguatan layanan perlindungan. Di sektor pendidikan, Pemprov DKI melanjutkan program Kartu Jakarta Pintar Plus, Program Pemutihan Ijazah, Wajib Belajar 13 Tahun, serta Program Sekolah Swasta Gratis.

Untuk tahun ajaran 2026/2027, Program Sekolah Swasta Gratis dilaksanakan di 103 sekolah yang mencakup jenjang SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB. Sekolah yang bekerja sama dengan Pemprov DKI ini menyediakan kuota bagi 10.109 murid baru. “Untuk anak-anak yang tinggal di Jakarta, sebagai kota ramah anak, saya berharap manfaatkan kesempatan untuk belajar dengan sungguh-sungguh,” kata Pramono. Ia menambahkan, “Jika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Pemprov DKI Jakarta membuka ruang seluas-luasnya melalui berbagai program bantuan pendidikan.”

Di luar lingkungan sekolah, Jakarta memiliki 324 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang tersebar di berbagai wilayah. Fasilitas ini menjadi tempat bagi anak untuk bermain, belajar, berolahraga, serta berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Pemprov DKI juga menyediakan layanan penitipan anak (daycare) serta Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak.

Pengaduan terkait kekerasan dapat diakses 24 jam melalui Jakarta Siaga 112, telepon, WhatsApp, atau dengan mendatangi kantor pelayanan di Pulogadung, Jakarta Timur. Upaya pencegahan juga dilakukan melalui penyuluhan keluarga di 267 kelurahan yang bertujuan memperkuat pola pengasuhan dan mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak sejak dari lingkungan rumah.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi, mengapresiasi kebijakan Pemprov DKI yang dinilai berpihak pada kepentingan anak. “Kami memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Pemprov DKI Jakarta karena berbagai kebijakannya benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik anak serta menciptakan suasana yang mendukung pemenuhan hak anak secara optimal,” ujar Seto.

Lansia Diharapkan Tetap Sehat dan Aktif

Perhatian serupa juga diberikan kepada warga lanjut usia. Jakarta saat ini dihuni oleh sekitar 1,16 juta lansia, yang setara dengan 10,6 persen dari total penduduk. Besarnya jumlah ini menjadikan kebutuhan warga senior sebagai bagian penting dalam perencanaan layanan kesehatan, perlindungan sosial, ruang aktivitas, dan mobilitas kota.

Dari sisi perlindungan sosial, Pemprov DKI menyalurkan Kartu Lansia Jakarta. Hingga Juni 2026, bantuan ini telah diterima oleh 168.497 lansia yang memenuhi kriteria. “Beberapa lansia yang keluarganya mampu tentunya, mohon maaf, belum bisa mendapatkan Kartu Lansia. Namun, yang membutuhkan akan kami prioritaskan,” jelas Pramono dalam peringatan Hari Lanjut Usia Nasional ke-30 di Jakarta Bird Land, Ancol, Selasa (14/7/2026).

Di bidang kesehatan, Pemprov DKI menyediakan Posyandu Lansia dan Poli Lansia Terpadu. Bagi warga dengan keterbatasan mobilitas, layanan kunjungan kesehatan ke rumah tersedia melalui program Pasukan Putih. Layanan kesehatan gratis ini tidak hanya untuk lansia, tetapi juga dapat diakses oleh warga berusia 18 tahun ke atas yang menderita penyakit kronis dan kesulitan mendatangi fasilitas kesehatan. Permintaan layanan dapat disampaikan melalui aplikasi JAKI atau nomor darurat 112 dan 119.

Pemprov DKI juga mengembangkan Sekolah Lansia sebagai ruang belajar, pemberdayaan, dan interaksi sosial. Hingga Juli 2026, terdapat 78 Sekolah Lansia dengan total 2.278 peserta. “Yang paling penting bagi lansia adalah merasa tetap produktif, bahagia, happy, dan yang utama adalah tetap mendapatkan rasa kasih sayang dari keluarga,” tutur Pramono.

Akses Transportasi Umum Gratis bagi Lansia

Kemudahan mobilitas juga menjadi bagian dari kebijakan ramah lansia. Warga yang memiliki KTP Jakarta dan berusia 60 tahun ke atas dapat mengajukan Kartu Layanan Gratis untuk menggunakan Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta tanpa biaya, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Fasilitas ini sangat membantu lansia dalam mendatangi layanan kesehatan, mengikuti kegiatan sosial, dan mengakses ruang kota tanpa terbebani biaya perjalanan. Ketua Forum Komunikasi Lanjut Usia Provinsi DKI Jakarta, Maria Ulfani, mengapresiasi layanan kesehatan yang diberikan kepada warga senior. Menurutnya, pendampingan petugas sangat membantu lansia yang belum terbiasa menggunakan layanan berbasis digital. “Pelayanan di rumah sakit dan puskesmas sangat memuaskan. Kami kan gaptek, banyak lansia yang kesulitan kalau harus daftar secara online. Namun, ketika kami datang ke rumah sakit, selalu ada petugas yang membantu. Ke depannya kami ingin terus menjaga kesehatan dan tetap menjadi warga Jakarta yang berguna,” ungkap Maria.

Kehadiran Sekolah Lansia juga mendapat sambutan positif dari para pesertanya. Rini (65), seorang peserta Senior School Pintar, mengaku senang memiliki ruang untuk belajar dan bertemu teman-teman seusianya. “Saya bahagia mempunyai teman di Sekolah Lansia, jadi bisa belajar dan bertemu teman-teman semua,” ujarnya. Hal serupa dirasakan Eli Surya (70). Bergabung dengan Sekolah Lansia memberikannya kegiatan rutin sehingga tidak mudah merasa bosan. “Saya dengar ada sekolah SSP, akhirnya saya ikut gabung SSP di Kelurahan Cipinang Melayu supaya saya tidak bosan, agar bisa tetap pintar,” ucap Eli.

Pramono menegaskan bahwa perhatian terhadap anak dan lansia merupakan bagian dari arah pembangunan Jakarta menjelang usia lima abad. Menurutnya, kota global harus mampu memberikan ruang hidup yang layak bagi seluruh generasi. “Menjelang usia lima abad, Jakarta harus menjadi kota global yang ramah bagi semua generasi. Karena itu, kolaborasi pemerintah, keluarga, FKLU, komunitas, dunia usaha, tenaga kesehatan, dan masyarakat harus terus diperkuat agar para lansia dapat hidup sehat, aktif, mandiri, berdaya, dan bermartabat,” ujar Pramono. Ia menambahkan bahwa berbagai layanan tersebut pada akhirnya harus dapat menjaga harapan warga lanjut usia agar tetap menjalani kehidupan secara aktif. “Kata kuncinya adalah lansia di Jakarta merasa memiliki harapan. Seseorang yang punya harapan biasanya lebih semangat untuk hidup,” pungkasnya.