— JAKARTA – Aktivitas kegempaan Gunung Sorikmarapi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, mengalami peningkatan signifikan. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan status gunung ini naik menjadi Waspada (level II).

Peningkatan aktivitas tersebut diawali dengan terekamnya Gempa Tektonik Lokal dan Gempa Terasa, yang kemudian disusul lonjakan Gempa Vulkanik Dalam. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa data pengamatan pada Sabtu, 18 Juli 2026, mencatat 40 kali Gempa Vulkanik Dalam, lima kali Gempa Tektonik Lokal, satu kali Gempa Terasa skala I MMI, dan dua kali Gempa Tektonik Jauh.

Tren kegempaan ini merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya. Selama 1 hingga 17 Juli 2026, telah tercatat 182 kali Gempa Vulkanik Dalam, 31 kali Gempa Tektonik Lokal, dan 51 kali Gempa Tektonik Jauh. Meskipun terjadi peningkatan kegempaan di kedalaman, alat seismograf di Pos Pengamatan Gunung Sorikmarapi belum mendeteksi adanya gempa dangkal atau permukaan.

Untuk mengantisipasi potensi bahaya, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi bagi masyarakat dan wisatawan. Dihimbau untuk tidak memasuki wilayah radius 1,5 kilometer dari pusat kawah utama atau puncak Gunung Sorikmarapi. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak mendekati Kawah Sibangor Tonga, Kawah Sibangor Julu, serta kawah aktif lainnya.

Lana Saria mengingatkan bahwa larangan mendekati area tersebut bertujuan untuk menghindari ancaman semburan lumpur dan gas beracun yang dapat terjadi sewaktu-waktu.