Berita7 — Google menginvestasikan modal pada Proxima Fusion, startup asal Jerman yang mengembangkan pembangkit listrik fusi nuklir komersial. Pengumuman investasi dilakukan setelah perusahaan menyelesaikan putaran pendanaan sebesar 411 juta euro (US$127,5 juta) pada Selasa (7/7/2026).
Suntikan dana ini mendorong valuasi Proxima Fusion mencapai sekitar US$2,7 miliar. Putaran pendanaan dipimpin oleh XTX Ventures dan East X Ventures, dengan Google serta perusahaan energi RWE sebagai investor strategis.
Pendanaan Dan Valuasi
Dalam pernyataannya, Proxima Fusion menyampaikan bahwa pendanaan baru meningkatkan posisi perusahaan sebagai salah satu startup fusi terbesar di Eropa. Modal segar akan digunakan untuk mempercepat pengembangan teknologi dan kapasitas produksi komponen penting.
CEO dan pendiri Proxima Fusion, Francesco Sciortino, mengatakan, “Eropa tengah berkejaran dengan Amerika Serikat (AS) dan China untuk meluncurkan pembangkit listrik fusi komersial pertama di dunia.” Pernyataan itu menegaskan ambisi perusahaan untuk bersaing dalam skala global.
Rencana Penggunaan Dana
Perusahaan menyatakan dana akan difokuskan untuk memperluas produksi kabel dan magnet superkonduktor suhu tinggi (high-temperature superconducting/HTS). Proxima Fusion menargetkan reaktor demonstrator bisa beroperasi pada awal dekade 2030-an, diikuti pembangunan pembangkit komersial penuh di akhir dekade tersebut.
Teknologi Yang Dikembangkan
Proxima Fusion mengembangkan teknologi fusi jenis stellarator, yaitu metode pengungkungan plasma bermagnet untuk memicu reaksi fusi. Fusi nuklir menggabungkan atom hidrogen menjadi helium, melepaskan energi besar—berbeda dengan pembangkit fisi yang memecah atom.
Persaingan Global Dan Tantangan
Meskipun menjadi startup fusi dengan pendanaan terbesar di Eropa, Proxima Fusion masih harus mengejar perusahaan-perusahaan pesaing di AS yang mendapat modal lebih besar. Sebagai perbandingan, beberapa startup AS memperoleh pendanaan yang lebih besar dalam beberapa bulan terakhir.
Google menyatakan komersialisasi fusi nuklir menghadapi jalan yang panjang. “Proses komersialisasinya sangat menantang dan kesuksesannya tidak dijamin secara instan,” demikian bunyi pernyataan Google.
Daya Tarik Investor Teknologi
Minat besar dari perusahaan teknologi terhadap fusi nuklir dipicu oleh kebutuhan energi firm 24 jam untuk pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sektor teknologi juga memiliki komitmen pada target emisi nol bersih (net-zero emissions), sehingga mencari sumber energi bersih yang andal.
Dalam konteks itu, fusi nuklir disebut sebagai holy grail energi bersih karena tidak menghasilkan limbah radioaktif aktif jangka panjang seperti reaktor fisi tradisional dan tidak membawa risiko kebocoran reaktor skala katastrofik seperti kejadian Chernobyl atau Fukushima, menurut penjelasan dalam pernyataan perusahaan.
Hambatan Teknis
Para ilmuwan masih bekerja mencapai kondisi net energy gain, yaitu ketika energi yang dihasilkan dari reaksi fusi lebih besar daripada energi yang digunakan untuk memicunya. Tantangan teknis ini menjadi salah satu alasan mengapa komersialisasi fusi memerlukan investasi besar dan waktu pengembangan panjang.
Investasi miliaran dolar pada pertengahan 2026 menunjukkan sektor swasta kini memandang fusi nuklir bukan sekadar eksperimen laboratorium, melainkan komoditas bisnis strategis untuk kedaulatan energi masa depan.
Ikuti Berita7
