Jakarta – Polemik mengenai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS yang memamerkan anaknya menjadi warga negara Inggris menuai perhatian. Mantan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt Dirjen Dikti) Kemendikbud, Prof. Nizam, angkat bicara mengenai rasa syukurnya atas kesempatan warga negara Indonesia (WNI) menimba ilmu di luar negeri (LN) dan kembali membangun negeri.
Penelitian Mahasiswa Asing di AS
Prof. Nizam mengawali penjelasannya dengan merujuk pada sebuah penelitian di Amerika Serikat (AS) yang mengkaji mahasiswa asing yang belajar di negara tersebut. Penelitian ini mencakup semua negara asal mahasiswa asing untuk mengetahui persentase mereka yang tidak kembali ke negara asalnya. Kajian tersebut juga mengaitkan perbedaan Produk Domestik Bruto (PDB) antara negara asal mahasiswa dengan AS, karena diduga peluang ekonomi dan upaya lari dari kemiskinan menjadi motif utama ketidak-kembalian mahasiswa asing.
“Penelitian tersebut juga dikaitkan dengan beda GDP antara negara asal dengan USA, karena diduga tidak kembalinya mahasiswa asing tersebut termotivasi peluang ekonomi dan lari dari kemiskinan di negara asalnya,” kata Prof Nizam kepada wartawan, Minggu (22/2/2026).
WNI Paling Setia pada Tanah Air
Hasil penelitian tersebut, menurut Prof. Nizam, menunjukkan bahwa WNI merupakan kelompok yang paling banyak kembali ke negara asalnya, bahkan ketika perbedaan PDB per kapita Indonesia dan AS lebih lebar dibandingkan negara lain yang mahasiswanya memilih untuk tidak kembali.
“Dari penelitian tersebut ternyata WNI paling banyak yang kembali ke negara asalnya, meski beda GDP per capita Indonesia-USA bahkan lebih lebar dibanding negara-negara yang warganya lebih memilih tidak kembali ke negara asalnya,” imbuhnya.
Lebih lanjut, penelitian itu juga mengungkap bahwa WNI memiliki tingkat kecintaan terhadap tanah air yang paling tinggi dibandingkan warga negara lainnya.
“Dari penelitian tersebut menunjukkan, orang Indonesia kecintaan pada tanah airnya sangat tinggi. Bisa dikata tertinggi dibanding warga bangsa lain,” ujarnya.
Syukur atas Brain Circulation
Prof. Nizam menilai fenomena ini patut disyukuri, di mana WNI dapat menimba ilmu di luar negeri dan kemudian kembali ke Indonesia untuk berkontribusi dalam pembangunan dalam negeri. Ia mencontohkan China yang berhasil menjadi negara maju pesat berkat penerapan konsep brain circulation.
“Ini yang harus kita syukuri. Kalaupun seorang mahasiswa selesai studi di LN mencari pengalaman dulu di sana, hemat saya baik-baik saja. Karena pengalaman di dunia industri di LN tentu sangat besar manfaatnya bagi pembangunan bangsa saat dia kembali kelak. Ini yang sering disebut brain circulation, ini pula salah satu kunci sukses China meloncat menjadi negara terdepan dalam IPTEK dan industri,” tambahnya.
Tanggapan LPDP
Kasus DS yang memamerkan anaknya menjadi warga negara Inggris dan pernyataannya ‘cukup saya WNI, anak jangan’ memang menimbulkan kontroversi. Pihak LPDP telah memberikan tanggapan terkait polemik tersebut.
Dalam sebuah unggahan di akun Instagram @lpdp_ri pada Jumat (20/2), LPDP menyatakan kekecewaannya atas kejadian tersebut. LPDP menilai tindakan DS tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang selama ini ditanamkan kepada seluruh penerima beasiswa.
“LPDP menyayangkan terjadinya polemik di media sosial yang dipicu oleh tindakan salah satu alumni, Saudari DS. Tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang ditanamkan LPDP kepada seluruh penerima beasiswa,” tulis LPDP.





