Pemecatan Enzo Maresca dari kursi manajer Chelsea pada akhir tahun 2025 memunculkan spekulasi mengenai peran petinggi klub dalam urusan teknis tim. Selama 18 bulan menukangi The Blues, Maresca berhasil mempersembahkan gelar UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub 2025, serta memoles potensi pemain muda. Namun, rentetan hasil buruk dalam sembilan laga terakhir akhirnya berujung pada pemutusannya.
Campur Tangan Petinggi Klub
Sumber dari media Inggris mengindikasikan bahwa Maresca merasa tidak nyaman bekerja di Chelsea akibat dugaan campur tangan berlebihan dari petinggi klub. Hal ini sempat disinggung oleh Maresca sendiri. Usai kemenangan 2-0 atas Everton di Stamford Bridge pada pertengahan Desember, ia menyebut 48 jam terakhir sebagai periode terburuk dalam kariernya karena merasa tidak mendapat dukungan.
“Secara umum semua orang,” jawab Maresca ketika ditanya siapa saja yang tidak mendukungnya, mengisyaratkan adanya pihak internal klub yang tidak sejalan.
Laporan menyebutkan bahwa Maresca beberapa kali didatangi langsung oleh petinggi klub, termasuk Todd Boehly dan Behdad Eghbali. Mereka kerap mempertanyakan formasi dan susunan pemain, serta minimnya waktu bermain bagi pemain muda.
ESPN melaporkan bahwa era kepemilikan Boehly di Chelsea memprioritaskan pembelian pemain muda sebagai investasi jangka panjang, yang terkadang dilakukan tanpa persetujuan manajer. Fenomena serupa juga dialami oleh manajer sebelumnya, Graham Potter dan Mauricio Pochettino.
Bahkan, pembelian pemain seperti Alejandro Garnacho dikabarkan bukan atas permintaan Maresca. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa Maresca tidak memiliki kebebasan penuh sebagai manajer, dengan taktik dan formasinya yang kerap dipertanyakan, serta keinginannya dalam mendatangkan pemain tidak selalu dikabulkan.
Situasi ini berbeda drastis dengan era kepemilikan Roman Abramovich selama 20 tahun. Saat itu, manajer memiliki keleluasaan untuk menentukan pemain yang ingin didatangkan. Jose Mourinho pernah menceritakan pengalamannya saat meminta Didier Drogba. “Ketika itu ada banyak nama penyerang top. Saya bilang ke Abramovich, ‘saya mau Drogba’. Dia membalas, ‘Drogba, siapa’. Saya bilang, ‘Mr Abramovich, diam saja dan beli lah,'” ungkapnya, yang kemudian Drogba menjadi legenda klub.






