Berita7 — JAKARTA – Bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kebayoran Lama Selatan 09 di Jakarta Selatan dilaporkan telah roboh sejak dua tahun lalu dan hingga kini masih terbengkalai tanpa perbaikan yang jelas. Kondisi ini memaksa ratusan siswa harus menumpang belajar di sekolah lain.
Salah satu orang tua siswa kelas 5, Evi (33), menceritakan bahwa kerusakan gedung sekolah tidak terjadi secara instan. Peristiwa awal kerusakan terjadi pada masa libur pemilihan kepala daerah (pilkada) tanggal 27 November 2024 lalu. Karena sedang libur, tidak ada orang di sekolah saat gedung mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
“Awalnya ya itu kejadian kan pas libur pilkada. Jadi nggak ada yang tahu, penjaga sekolah pun nggak ada yang tahu,” kata Evi kepada wartawan, Selasa (21/7/2026).
Menurut Evi, informasi awal kerusakan diketahui dari warga sekitar yang melihat tanda-tanda kemiringan pada bangunan sejak pagi hari. Bangunan tersebut tidak langsung roboh, melainkan miring secara perlahan.
“Warga sekitar aja yang (tahu), dari warga sekitar awalnya itu pagi hari sekitar jam 06.30 atau jam 07.00-an lah, sekitar jam segitu. Robohnya itu juga nggak langsung, pelan, nggak langsung ‘bruk’ seperti ini. Pelan,” cerita Evi.
Puncaknya, bangunan tersebut benar-benar roboh pada sore hari saat wilayah tersebut dilanda cuaca buruk. Hujan deras yang mengguyur membuat struktur bangunan yang sudah miring akhirnya ambruk sepenuhnya.
“Nah, waktu ketika di sore hari hujan deras pada saat itu, tiba-tiba langsung ‘bruk’ gitu aja sih. Nah, kita semua juga dapat info dari warga ya kan, terus sudah di-up (infonya) sama sekolah juga dan kita juga sudah langsung mengetahuinya dari sekolah gitu aja,” tuturnya.
Lima Ruangan Ambruk dan Terbengkalai
Akibat kejadian tersebut, sebanyak lima ruangan mengalami kerusakan berat. Empat di antaranya adalah ruang kelas, sementara satu ruangan lainnya adalah Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
“Iya, satu lagi UKS. Empat kelas sama satu UKS, jadi lima ruangan. Langsung seperti itu, makanya dua tahun ya begini aja, terbengkalai begini aja ibaratnya gitu,” jelas Evi.
Evi menambahkan bahwa pihak sekolah telah melaporkan kejadian ini ke dinas pendidikan (disdik). Namun, hingga kini belum ada tindakan nyata perbaikan. Alasan yang sempat diterima orang tua murid adalah adanya pengalihan anggaran untuk perbaikan sekolah lain yang dianggap lebih mendesak.
“Iya kalau waktu yang pertama itu yang kita ketemu sih ya maksudnya ya anggarannya lagi dialihkan ke yang lain dulu, sekolah yang lain dulu karena ada sekolahan yang lebih katanya yang lebih parah katanya,” ujar Evi menirukan penjelasan yang pernah ia terima pada 2025 lalu.
200 Siswa Terpaksa Numpang Belajar Siang Hari
Robohnya bangunan sekolah ini berdampak signifikan pada proses belajar mengajar. Sekitar 200 siswa terpaksa menumpang di SDN Kebayoran Lama Selatan 11 yang lokasinya bersebelahan. Akibatnya, para siswa harus mengikuti kegiatan belajar mengajar pada siang hari.
“Karena kan numpang jadi sekolah sore baru kita, jadinya anak-anak juga mungkin kurang nyaman namanya kita menumpang ya gitu kan. Jadinya anak-anak kurang untuk leluasalah,” tutur Evi.
Selain masalah jam sekolah yang bergeser ke siang hari, kondisi ini juga membuat anak-anak kehilangan waktu untuk mengikuti kegiatan keagamaan seperti mengaji di sore hari.
“Karena kan sekarang masuknya siang, jadi anak-anak yang tadinya ngaji sekarang jarang yang ngaji. Sudah dua tahun tidak ngaji lagi gitu. Kan ngajinya itu di sore, habis Ashar biasanya kan. Kita kan di sini pulang sekolahnya jam 5, dari jam 1 sampai jam 5. Jadinya anak-anak di sore itu ya sudah untuk aktivitas agama jadinya nggak nyaman, kita belajar pun nggak nyaman. Jika siang gitu, pulang sore,” keluhnya.
Para orang tua murid kini hanya bisa berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki sekolah tersebut agar siswa dapat kembali belajar dengan nyaman.
“Cuma kita ingin Pemprov DKI bisa tolong bantu untuk sekolah kami ini gitu kan, agar disegerakan, anak-anak agar bisa nyaman untuk belajar kembali seperti biasanya gitu,” sebut Evi.
“Besar harapan kami gitu kan sebagai orang tua murid minta tolong untuk ya Gubernur khususnya ya kan untuk tindak lanjutnya sekolah kami ini gitu aja sih. Minta yang terbaik, yang terbaik sudah gitu aja kita,” pungkasnya.
Ikuti Berita7
