Brentford – Arsenal, yang dikenal sebagai tim paling produktif dalam mencetak gol dari situasi bola mati musim ini, justru mengalami nasib nahas ketika senjata andalan mereka berbalik menyerang di laga melawan Brentford. Hingga pekan ke-26 Premier League, Arsenal telah mengoleksi 15 gol dari bola mati, yang setara dengan 31 persen dari total 50 gol mereka. Angka ini hanya sedikit di bawah gol yang dicetak dari permainan terbuka, yaitu 24 gol.
Senjata Makan Tuan di Gtech Community Stadium
Dominasi Arsenal dalam memanfaatkan bola mati sempat menuai kritik karena dianggap hanya mengandalkan skema tersebut. Namun, ironisnya, situasi bola mati justru menjadi bumerang bagi tim asuhan Mikel Arteta saat bertandang ke Gtech Community Stadium, markas Brentford, pada Jumat (13/2/2025) dini hari WIB. Meskipun menguasai jalannya pertandingan dengan ball possession yang dominan, Arsenal kesulitan menembus pertahanan tuan rumah.
Noni Madueke sempat membawa Arsenal unggul 1-0 pada menit ke-61. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Sepuluh menit berselang, Keane Lewis-Potter berhasil menyamakan kedudukan melalui gol yang berawal dari lemparan ke dalam, salah satu andalan Brentford musim ini. Proses gol tersebut diawali oleh lemparan Sepp van den Berg yang disundul oleh Michael Kayode, sebelum akhirnya bola diarahkan ke gawang oleh kepala Lewis Potter.
Pertahanan Solid Brentford Terhadap Bola Mati
Sementara itu, upaya Arsenal dari bola mati sepanjang pertandingan tidak membuahkan hasil. Hal ini tidak mengherankan mengingat Brentford memiliki rekor pertahanan yang sangat baik terhadap bola mati, hanya kebobolan empat gol sepanjang musim ini dari situasi tersebut.
Manajer Arsenal, Mikel Arteta, mengungkapkan kekecewaannya atas hasil tersebut. “Mereka adalah salah satu tim terbaik dari bola mati sepanjang sejarah liga ini dan mereka mengembangkannya musim ini dengan lemparan ke dalam. Ini ancaman nyata dan sulit untuk diantisipasi,” ujar Arteta seperti dikutip dari BBC Sport. Ia menambahkan, “Kami tidak seharusnya memberikan free kick untuk lawan seperti itu. Anda harusnya bisa lebih tenang menghadapi mereka.”
Arteta menyayangkan hilangnya poin penuh. “Kami ingin menang, jadi kami merasa seperti kehilangan dua poin. Mereka sangat sulit,” pungkasnya.






