Napoli harus mengubur mimpinya berlaga di Liga Champions musim ini setelah takluk 2-4 dari Chelsea pada laga pamungkas fase grup di Naples, Kamis (29/1/2026) dini hari. Kekalahan ini sekaligus memperpanjang catatan minor pelatih Antonio Conte di kompetisi antarklub terakbar di Eropa.
Rekor Buruk Conte di Liga Champions
Antonio Conte, yang dikenal sebagai pelatih ulung di kompetisi domestik dengan enam gelar liga bersama Juventus, Chelsea, Inter Milan, dan Napoli, justru memiliki rekor yang jauh dari memuaskan di Liga Champions. Pencapaian terbaiknya di ajang ini adalah menembus perempat final bersama Juventus pada musim 2012-2013, hampir 13 tahun lalu. Sejak saat itu, langkahnya di Liga Champions kerap terhenti lebih awal.
Saat menukangi Chelsea, Conte hanya mampu membawa timnya mencapai babak 16 besar pada musim 2017-2018. Di Inter Milan, performanya lebih buruk lagi, terhenti di fase grup pada musim 2019-2020, meskipun kemudian berhasil membawa Inter ke final Liga Europa.
Kini, bersama Napoli, catatan buruk itu kembali terulang. Napoli gagal melaju ke fase gugur setelah hanya menempati peringkat ketiga klasemen grup dengan delapan poin dari enam pertandingan. Tim asuhan Conte hanya mampu meraih dua kemenangan, dua hasil imbang, dan empat kekalahan melawan Manchester City, PSV Eindhoven, Benfica, dan Chelsea.
Kontras dengan Karier Pemain
Situasi ini sangat kontras dengan masa-masa Conte sebagai pemain. Ia pernah merasakan empat kali menembus final Liga Champions bersama Juventus, bahkan meraih satu gelar pada tahun 1996.
Conte Tetap Bangga Meski Tersingkir
Meskipun harus tersingkir dari Liga Champions, Antonio Conte mengaku tetap bangga dengan penampilan anak asuhnya. Ia menilai perbedaan utama terletak pada penyelesaian akhir lawan yang lebih klinis.
“Perbedaan (kedua tim) adalah penyelesaian akhir, mereka jauh lebih akurat dan klinis di depan gawang,” ujar Conte kepada Sky Sport Italia usai laga. “Kami bangga dan puas, karena meski kehilangan lebih dari setengah skuad, kami bermain, jika bukan di level yang sama, bahkan lebih baik daripada Chelsea, dan pantas mendapatkan hasil yang jauh lebih baik.”
Conte juga menyoroti pentingnya laga-laga sebelumnya yang terbuang. “Saya bilang ke para pemain bahwa penyesalan itu ada di Kopenhagen (imbang 1-1), di mana kami tidak boleh membiarkan kemenangan itu lepas begitu saja. Itu memaksa kami berada dalam situasi ini melawan klub papan atas, jangan lupa Chelsea memenangi Piala Dunia Antarklub, mereka memiliki pemain-pemain luar biasa di lapangan, di bangku cadangan, dan bahkan di tribun penonton,” jelasnya.
Fokus pada Kompetisi Domestik
Dengan tersingkirnya dari Liga Champions, Napoli kini akan fokus pada dua kompetisi tersisa. Di Serie A, tim asuhan Conte saat ini menduduki peringkat keempat klasemen sementara dengan 43 poin dari 22 pekan. Napoli juga akan menghadapi Como di perempat final Coppa Italia pada 10 Februari mendatang.
Perjalanan Napoli di Liga Champions 2025-2026:
| Musim | Tim | Fase |
|---|---|---|
| 2012-13 | Juventus | Perempat Final |
| 2013-14 | Juventus | Fase Grup |
| 2017-18 | Chelsea | 16 Besar |
| 2019-20 | Inter Milan | Fase Grup |
| 2020-21 | Inter Milan | Fase Grup |
| 2022-23 | Tottenham | 16 Besar |
| 2025-26 | Napoli | Fase Liga |






