Jakarta – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) dalam operasi militer di Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari memicu reaksi beragam dari negara-negara di kawasan Amerika Latin. Tindakan AS ini merupakan puncak dari tekanan berbulan-bulan terhadap Venezuela di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Rusia dan China Kecam Tindakan AS
Sekutu utama Venezuela, Rusia dan China, mengecam keras operasi militer AS. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan tindakan AS tidak dapat dibenarkan dan merupakan agresi bersenjata. “Permusuhan yang berideologi telah mengalahkan pertimbangan pragmatis, serta keinginan untuk membangun hubungan berdasarkan kepercayaan dan prediktabilitas,” ujar pernyataan resmi Rusia, seperti dilansir TASS. Rusia mendesak AS untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan menawarkan diri mendukung dialog antara AS dan Venezuela.
Senada dengan Rusia, Kementerian Luar Negeri China juga menyerukan agar AS segera membebaskan Maduro dan istrinya, Cilia Flores. “China menyerukan AS untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Maduro dan istrinya, segera membebaskan Presiden Maduro dan istrinya,” demikian pernyataan China yang dikutip CNN, Minggu (4/1/2026). China mendesak AS untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan menghentikan upaya penggulingan rezim Venezuela.
Perpecahan di Amerika Latin
Reaksi dari negara-negara Amerika Latin menunjukkan polarisasi politik yang tajam. Sejumlah negara yang memiliki hubungan dekat dengan AS memuji penangkapan tersebut. Argentina, Paraguay, dan Ekuador menyambut baik berita penangkapan Maduro. Panama menyatakan dukungan untuk oposisi politik Venezuela, yang diklaim memenangkan pemilihan presiden 2024.
Sementara itu, negara-negara lain seperti Kolombia, Brasil, Meksiko, Uruguay, dan Kuba mengutuk serangan AS dan menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mencari solusi damai. Guatemala secara terpisah menyerukan lebih banyak dialog.
PBB Prihatin, Tunjuk Presiden Interim
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas aksi militer AS di Venezuela dan dampaknya terhadap kawasan. Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, mengatakan Guterres khawatir dengan perkembangan ini yang disebutnya sebagai preseden berbahaya. “Sekretaris Jenderal terus menekankan pentingnya penghormatan penuh, oleh semua pihak, terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB,” ujar Dujarric, mengutip CNN.
Menyusul penangkapan Maduro, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Eloina Rodriguez Gomez sebagai Presiden interim. Keputusan ini didasarkan pada konstitusi Venezuela untuk menjamin kesinambungan administrasi dan pertahanan negara di tengah situasi agresi asing.






