JAKARTA – Pemerintah Kota Jakarta Timur segera memanggil sejumlah instansi terkait untuk membahas persoalan penolakan warga terhadap keberadaan lapangan padel di Pulomas, Pulogadung, Jakarta Timur. Warga menolak lapangan tersebut karena menimbulkan suara bising yang mengganggu.
Pemkot Panggil Instansi Terkait
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, menyatakan pihaknya akan memanggil Suku Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). “Sudah, itu nanti lagi mau manggil Suku Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan, sama PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu), sama Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja),” kata Munjirin di SMK 24 Cipayung, Jakarta Timur, Senin (23/2/2026).
Selain itu, Pemkot Jakarta Timur juga akan berkoordinasi dengan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait persoalan ini. “(PTUN) Iya, nanti kita lihat, nanti kita lihat dulu dong, kan belum manggil tadi,” ucap Munjirin.
Warga Terganggu Suara Bising
Sebelumnya, warga Pulomas, Kayu Putih, Pulogadung, memprotes pembangunan lapangan padel di wilayah tersebut. Laporan menyebutkan lapangan itu telah menerima surat peringatan (SP) serta perintah pembongkaran dari pemerintah.
Salah satu warga, Ratna, menjelaskan pembangunan lapangan padel dimulai pada Juni 2024. Awalnya, warga mengira bangunan tersebut untuk kepentingan pribadi. Namun, pada November 2024, saat pembukaan, warga dan pengurus lingkungan merasa kebingungan karena tidak pernah dimintai persetujuan pembangunan lapangan padel dari pihak pengelola.
Karena tidak mendapat kejelasan, warga mengajukan gugatan ke PTUN terkait izin mendirikan bangunan. “Nah, selama berjalannya sidang, kita akhirnya tahu bahwa bukti dari Pemerintah Kota (Pemkot) justru. Wali Kota mengeluarkan bukti ada, dikeluarkannya SP satu, SP dua, SP tiga, SP pembongkaran (lapangan),” kata Ratna.
Surat Peringatan tersebut diterbitkan pada Mei 2025, setelah operasional lapangan berjalan. Ratna mengakui sejak 2024, lapangan padel tersebut kerap menimbulkan kebisingan dan membuat warga tidak nyaman. “Mobil banyak banget yang lewat gitu kan, mungkin ada kali sekitar 100 sampai 150 mobil yang lewat. Belum lagi kalau mereka antar-jemput, kan jadi dobel, bolak-balik gitu kan. Nah terus, ya, udah akhirnya warga merasa terganggu gara-gara juga ada turnamen, ramai banget,” ungkap Ratna.





