Berita7.co.id — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mempercepat pembangunan lima embung dan kolam retensi prioritas sebagai bagian dari upaya jangka panjang mengendalikan banjir dan genangan, khususnya di kawasan timur Kota Semarang.
Langkah ini merupakan bagian dari 20 titik potensi embung dan kolam retensi yang telah dipetakan dalam Sistem Semarang Timur. Pembangunan dirancang terintegrasi dengan normalisasi saluran, pembangunan drainase, dan pengoperasian rumah pompa.
Agustina menyatakan penanganan banjir menjadi prioritas pemerintahan. Ia menginstruksikan seluruh perangkat daerah mempercepat perencanaan hingga pelaksanaan agar manfaat infrastruktur segera dirasakan masyarakat.
“Banjir adalah persoalan yang telah dihadapi Kota Semarang selama bertahun-tahun. Karena itu penyelesaiannya tidak bisa hanya bersifat jangka pendek,”
Wali Kota menegaskan pentingnya membangun sistem pengendalian banjir yang komprehensif, mulai dari penguatan drainase, optimalisasi pompa, normalisasi sungai, hingga pembangunan embung yang saling terintegrasi.
Menurutnya, embung menjadi investasi infrastruktur untuk mengurangi risiko banjir, meningkatkan cadangan air, mendukung ketahanan lingkungan, serta menyediakan ruang terbuka bagi masyarakat.
“Pekerjaan ini membutuhkan proses, tetapi yang terpenting adalah arah kebijakannya sudah jelas. Pemerintah Kota Semarang akan terus mengawal pembangunan embung secara bertahap hingga seluruh titik yang telah dipetakan dapat direalisasikan,” tegas Agustina.
Rincian Embung Prioritas
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang, Murni Ediati, menyebut kelima embung diprioritaskan berdasarkan kesiapan teknis, kebutuhan penanganan, dan dukungan anggaran.
Prioritas pertama adalah Embung Dung Tungkul di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang. Embung ini memiliki luas 6,473 hektare dengan kapasitas tampung 120.000 meter kubik dan nilai investasi sekitar Rp56,75 miliar.
Proyeksi menunjukkan Embung Dung Tungkul mampu mereduksi debit puncak Kali Babon hingga 14,35 persen dan mengurangi genangan seluas sekitar 3,3 hektare di wilayah Meteseh dan Rowosari.
Prioritas kedua adalah Embung Sembungharjo di Kecamatan Genuk. Embung seluas 1,74 hektare ini memiliki kapasitas tampung 52.240 meter kubik dengan estimasi biaya sekitar Rp12,5 miliar.
Pembangunan Sembungharjo masuk rencana penanganan genangan 2026 dan diperkirakan membutuhkan dukungan saluran tersier terintegrasi senilai sekitar Rp38,7 miliar untuk kawasan Sembungharjo dan Karangroto.
Selanjutnya, Embung Graha Estetika di Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, diprioritaskan untuk mengurangi genangan di persimpangan Sirojudin dan Tembalang Selatan dengan nilai proyek sekitar Rp6 miliar.
Dua lokasi terakhir adalah kolam retensi di Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan. Kolam Retensi Muktiharjo Kidul 1 bernilai Rp4,98 miliar dan Kolam Retensi Muktiharjo Kidul 3 bernilai Rp1,98 miliar.
Selain itu, termasuk pembangunan saluran penghubung inlet dan outlet kawasan Muktiharjo Kidul senilai Rp10,835 miliar.
Target Dampak dan Prioritas
Murni mengatakan kelima embung diproyeksikan mengurangi potensi genangan dan banjir di wilayah yang selama ini terdampak, seperti Meteseh, Rowosari, Sembungharjo, Karangroto, Tembalang, dan Muktiharjo Kidul.
Infrastruktur tersebut juga diproyeksikan menekan risiko banjir yang sebelumnya pernah melanda hingga 23 kelurahan. “Kami bekerja berdasarkan skala prioritas dengan mempertimbangkan luas daerah tangkapan air serta besarnya dampak banjir yang ditimbulkan,” tutup Murni.
Ikuti Berita7.co.id
