Berita

Tito Karnavian Berkomitmen Selesaikan Pembangunan Masjid Islamic Centre Lhokseumawe yang Tertunda 30 Tahun

Advertisement

Lhokseumawe, Aceh – Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan komitmennya untuk membantu penyelesaian pembangunan Masjid Agung Islamic Centre Lhokseumawe yang telah berlangsung hampir tiga dekade.

Kagum dengan Kemegahan, Prihatin Pembangunan Belum Tuntas

Tito Karnavian mengungkapkan kekagumannya terhadap desain dan kemegahan masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Lhokseumawe. Ia mengaku terkesan saat mencari informasi mengenai Lhokseumawe di internet, di mana gambar masjid tersebut selalu muncul, terutama saat malam hari yang memancarkan keindahan.

“Saya berbahagia bisa berkumpul bersama melaksanakan buka puasa, kemudian salat Jumat, salat Isya dan insyaallah sebentar lagi salat Tarawih bersama di masjid kebanggaan warga Kota Lhokseumawe,” ujar Tito saat salat Tarawih bersama masyarakat, Sabtu (21/2/2026).

Namun, di balik kekagumannya, Tito menyoroti fakta bahwa pembangunan masjid yang dimulai hampir 30 tahun lalu itu belum sepenuhnya rampung. Ia menilai kondisi bangunan yang belum tuntas tersebut belum sepenuhnya layak sebagai ikon kebanggaan kota.

“Saya belum tahu harus berbuat seperti apa, tapi saya akan berbuat,” tegasnya, menunjukkan tekadnya untuk mencari solusi.

Upaya Dukungan dari Berbagai Jaringan

Tito Karnavian berjanji akan berupaya mencari berbagai alternatif dukungan untuk membantu penyelesaian pembangunan masjid. Upaya ini akan dilakukan melalui jaringan pemerintah maupun jejaring lainnya, termasuk potensi dukungan dari luar negeri.

Advertisement

“Insyaallah saya juga banyak sahabat kawan-kawan yang peduli untuk pembangunan masjid,” ungkapnya, mengisyaratkan adanya potensi bantuan dari jaringan pribadinya.

Fokus Utama Tetap Rehabilitasi Pascabencana

Meskipun menyoroti persoalan pembangunan masjid, Tito menegaskan bahwa fokus utamanya di Aceh adalah percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Ia menjelaskan bahwa Aceh merupakan salah satu wilayah terdampak terluas di Sumatera.

“Itulah sebabnya kami melaksanakan safari Ramadan di Aceh ini dari hari pertama, itu menyusuri daerah pantai untuk meng-update mengetahui problema-problema yang ada, yang masih dihadapi oleh pemerintah daerah maupun oleh masyarakat,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pemerintah bekerja keras untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah-daerah yang terdampak bencana. “Tapi dalam perjalanan ini kita juga menemukan masalah yang lain seperti masjid ini. Ini juga menjadi catatan bagi kami,” pungkasnya.

Advertisement