Berita

Sopir Mobil SPPG Kebumen Dipecat Setelah Mabuk, Tabrak Sekolah, dan Hajar 15 Warga

Advertisement

KEBUMEN, JAWA TENGAH – Ajiz Setyo Wihantoro (39), sopir mobil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengamuk di Kebumen, Jawa Tengah, telah diberhentikan dari pekerjaannya. Pemberhentian ini dilakukan setelah ia mengemudi dalam keadaan mabuk, menabrak gerbang SDN Clapar, dan menghajar 15 warga.

Kronologi Kejadian

Peristiwa nahas ini terjadi pada Jumat (6/2/2026) sore di Kecamatan Karanggayam, Kebumen. Ajiz, warga Desa Karangsambung, diduga dalam pengaruh alkohol saat mengendarai mobilnya. Ia menabrak gerbang SDN Clapar dan talud sebelum akhirnya mengamuk kepada warga yang mencoba menolongnya.

Aparat kepolisian segera mendatangi lokasi kejadian setelah menerima laporan dan berhasil mengamankan pelaku. Untuk menyelesaikan persoalan ini, pihak kepolisian bersama perangkat desa memfasilitasi pertemuan antara Ajiz, korban, dan pihak yayasan yang menaunginya.

Mediasi dan Sanksi

Pada Sabtu (7/2/2026), mediasi antara para pihak menghasilkan kesepakatan penyelesaian secara kekeluargaan. Kasat Reskrim Polres Kebumen, AKP Dwi Atma Yofi Wirabrata, menyatakan bahwa Ajiz telah meminta maaf dan bersedia mengganti kerugian. Para korban juga telah mendapatkan perawatan.

“Pertemuan dari para pihak, dari sopir MBG sudah minta maaf kemudian ganti kerugian, pihak yang jadi korban sudah diobati terus kemarin mediasi penyelesaian dilakukan secara kekeluargaan. Kasus hukum tidak berlanjut,” ungkap AKP Dwi Atma Yofi Wirabrata saat dihubungi, Minggu (8/2/2026).

Advertisement

Meskipun kasus hukum tidak dilanjutkan, Yayasan Bumi Tirto Mulyo, yang menaungi Ajiz, tetap memberikan sanksi tegas. Plh Kapolsek Karanggayam, Ipda Samun, mengonfirmasi bahwa Ajiz langsung diberhentikan dari posisinya sebagai sopir mobil SPPG.

“Hasil mediasi sepakat permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan. Terus MBG mengeluarkan saudara Ajiz itu, diberhentikan sejak mediasi kemarin. Yang bilang Ketua Yayasan, Pak Suradi. Intinya (sopir) sudah tidak dipakai,” jelas Ipda Samun.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesadaran akan bahaya mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan dampak buruknya bagi masyarakat.

Advertisement