Berita

Sekolah Rakyat: Lebih dari Pendidikan, Wadah Penggemblengan Anak Bangsa oleh Gus Ipul

Advertisement

Jakarta – Di tengah semilir angin pagi yang menyapa, ratusan siswa Sekolah Rakyat rintisan memulai aktivitas harian mereka di lingkungan asrama. Rutinitas yang dimulai sejak Salat Subuh berjamaah ini menjadi bagian integral dari pembentukan karakter bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang kini menempuh pendidikan di 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Derap langkah kaki yang memecah keheningan lorong asrama menandai dimulainya rangkaian kegiatan, mulai dari belajar, beribadah, makan bersama, hingga menjaga kebersihan lingkungan.

Sekolah Rakyat sebagai Kawah Candradimuka

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi pendidikan formal. Ia menggambarkannya sebagai sebuah ‘kawah candradimuka’, sebuah ruang penggemblengan yang disiapkan untuk membentuk masa depan anak-anak dari keluarga rentan.

“Sekolah Rakyat adalah kawah candradimuka, tempat penjaga asa keluarga, (mereka) digembleng, dididik, dan disiapkan untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mengubah masa depan keluarganya,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulis, Jumat (16/1/2026).

Data Kementerian Sosial menunjukkan bahwa banyak siswa yang berasal dari latar belakang ekonomi sulit. Tercatat 454 siswa sebelumnya tidak pernah mengenyam pendidikan formal, 298 lainnya putus sekolah, dan sebagian belum lancar membaca meski sudah memasuki usia SMA. Banyak dari mereka terpaksa bekerja sejak dini untuk membantu perekonomian keluarga.

Potensi Unik Melalui DNA Talent

Untuk memetakan potensi setiap siswa, Sekolah Rakyat menggunakan tes talenta berbasis teknologi, DNA Talent. Pendekatan ini memandang setiap anak sebagai pribadi unik dengan bakat yang dapat dikembangkan sesuai minat mereka.

Gus Ipul menjelaskan bahwa pendidikan formal di Sekolah Rakyat dijalankan dengan kurikulum yang personal dan dibimbing oleh guru-guru tersertifikasi. Di lingkungan asrama, para siswa dibina oleh wali asuh dan wali asrama untuk menumbuhkan kebiasaan hidup sehat, tertib, disiplin, dan mandiri.

“Pendidikan formal dijalankan dengan kurikulum yang sangat personal. Dibimbing oleh guru-guru yang tersertifikasi. Di asrama, anak-anak dibimbing oleh wali asuh dan wali asrama dalam pembiasaan hidup sehat, tertib, disiplin, dan mandiri,” jelasnya.

Perubahan Positif yang Terasa

Setelah enam bulan berjalan, perubahan positif mulai terlihat pada para siswa. Kondisi kesehatan mereka membaik, dan tingkat kepercayaan diri meningkat secara signifikan. Gus Ipul sempat menampilkan bakat para siswa di hadapan Presiden Prabowo saat acara Peluncuran Sekolah Rakyat di Banjarbaru.

“Ketika anak-anak merasa aman dan diperhatikan, mereka tumbuh. Tadi, Bapak Presiden, yang tampil di atas panggung itu semuanya adalah siswa Sekolah Rakyat,” ungkapnya.

Dampak positif ini juga dirasakan oleh keluarga siswa. Banyak orang tua yang menyampaikan perubahan perilaku anak-anak mereka melalui pesan, seperti peningkatan dalam ibadah, kemandirian bangun pagi, kesediaan membantu pekerjaan rumah, peningkatan rasa percaya diri, dan kemampuan bersosialisasi.

Advertisement

“Banyak pesan mengharukan yang kami terima dari para orang tua. (seperti) Terima kasih sekarang anak kami lebih rajin beribadah, bangun pagi tanpa dibangunkan, mau membantu pekerjaan rumah, tidak lagi menyendiri, mau bermain dengan teman sekitar di rumah, dan lebih percaya diri,” sambung Gus Ipul.

Harapan untuk Masa Depan Bangsa

Menutup laporannya, Gus Ipul menyampaikan keyakinannya bahwa Sekolah Rakyat akan dikenang sebagai program yang menanamkan harapan bagi generasi penerus.

“Kelak ketika anak-anak di tepian sungai, lereng bukit, dan sudut-sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan: di masa itu pernah ada seorang Presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto,” pungkasnya.

Program Unggulan Berbasis Asrama

Sekolah Rakyat merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas berbasis asrama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Program ini terintegrasi dengan berbagai program pemerintah, termasuk Cek Kesehatan Gratis, Makan Bergizi Gratis, jaminan kesehatan PBI-JKN, Koperasi Merah Putih, serta Program Tiga Juta Rumah bagi keluarga siswa.

Keluarga siswa juga didorong untuk mengikuti program pemberdayaan sosial ekonomi agar dapat mencapai kemandirian.

Jangkauan dan Target Sekolah Rakyat

Hingga saat ini, Sekolah Rakyat telah hadir di 166 lokasi dengan kapasitas menampung 15.945 siswa, didukung oleh 2.218 guru dan 4.889 tenaga kependidikan dari jenjang SD hingga SMA. Sekolah-sekolah ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mencakup Sumatera (35 lokasi), Jawa (70 lokasi), Bali dan Nusa Tenggara (7 lokasi), Kalimantan (13 lokasi), Sulawesi (28 lokasi), Maluku (7 lokasi), dan Papua (6 lokasi).

Pada tahap awal, sekolah memanfaatkan fasilitas yang ada dari Kementerian Sosial, Balai Latihan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, dan aset pemerintah daerah. Pemerintah menargetkan pembangunan 104 gedung permanen tahun ini, dengan rencana ke depan mendirikan 500 Sekolah Rakyat yang masing-masing berkapasitas 1.000 siswa.

Pengembangan Karakter dan Keterampilan

Selain pendidikan akademik, para siswa Sekolah Rakyat juga dibekali dengan pembentukan karakter dan keterampilan. Sejak awal masuk, mereka menjalani pemetaan melalui DNA Talent Mapping, yang kemudian mengarahkan mereka sesuai minat, baik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi maupun langsung memasuki dunia kerja setelah lulus.

Kementerian Sosial bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Ary Ginanjar (UAG) dan ESQ Business School, untuk memfasilitasi beasiswa bagi siswa berprestasi dari Sekolah Rakyat. Bagi siswa yang ingin langsung bekerja, kolaborasi dilakukan dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Siswa jenjang SMP yang memiliki kemampuan akademik memadai juga difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Garuda.

Advertisement