— Di tengah fluktuasi harga emas sekitar US$4.100 per troy ounce, seorang analis pasar memproyeksikan kenaikan ekstrem pada logam mulia tersebut.

Peter Schiff, dalam penjelasan kepada Mining, menyatakan kondisi utang dan defisit Amerika Serikat berpotensi mendorong harga emas naik jauh dari level saat ini.

Schiff menyoroti beban utang AS yang mendekati US$40 triliun, defisit tahunan yang mendekati US$3 triliun, serta pembayaran bunga yang menuju US$2 triliun sebagai faktor tekanan fiskal yang besar.

“Saya pikir investor tertipu oleh retorika The Fed,” kata Schiff.

“Dia memang mengakui bahwa inflasi adalah pilihan, dan itulah yang akan dia pilih,” tambahnya.

Menurut Schiff, pilihan tersebut akan menghasilkan rangkaian konsekuensi: penurunan tajam pasar saham, jatuhnya harga rumah, resesi, dan pengetatan fiskal—namun pembuat kebijakan diperkirakan akan menghindari langkah yang menyebabkan krisis finansial lebih besar.

Schiff berargumen bahwa Bank Sentral AS kemungkinan akan membiarkan inflasi mengikis nilai riil utang pemerintah alih-alih menaikkan suku bunga secara signifikan, karena kenaikan tajam suku bunga dapat membuat pembayaran utang menjadi tidak terjangkau.

Dia menilai kenaikan suku bunga yang lebih tinggi pada akhirnya justru menjadi salah satu pendorong naiknya harga emas.

Dalam proyeksinya, Schiff memperkirakan realisasi target harga bertahap: emas naik terlebih dahulu ke US$5.000 per troy ounce dan kemudian mencapai US$10.000. Untuk perak, ia memproyeksikan harga menuju US$200 per ons, dengan US$50 sebagai level support jangka panjang.

Schiff juga melihat adanya saling penguatan antara permintaan industri dan permintaan moneter untuk logam mulia.

Selain itu, ia menyebut kemungkinan perluasan diversifikasi cadangan aset bank-bank global dari dolar AS ke emas, yang menurutnya membalikkan sistem moneter yang terbentuk sejak 1971.

“Emas menjadi pengganti dolar AS. Karena emas adalah cadangan sebelum menjadi dolar,” sebut Schiff.