Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai situasi global saat ini yang dinilainya memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Pandangan ini disampaikan SBY melalui akun X-nya, @SBYudhoyono, pada Senin (19/1/2026).
Potensi Perang Dunia Ketiga dan Kesamaan Sejarah
SBY menyatakan bahwa potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga sangat mungkin terjadi, meskipun ia tetap berharap kengerian tersebut dapat dicegah. Namun, ia menilai ruang dan waktu untuk mencegahnya semakin sempit dari hari ke hari. “Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini,” ujar SBY.
Ia merinci kesamaan tersebut, meliputi munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. SBY menambahkan, sejarah mencatat bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegahnya seringkali tidak terjadi.
Latar Belakang Perang Dunia I dan II
Perang Dunia I, yang dikenal sebagai The Great War, berlangsung dari tahun 1914 hingga 1918 dan menewaskan hampir 20 juta orang. Sementara itu, Perang Dunia II terjadi pada 1939-1945 dan merenggut nyawa sekitar 60-80 juta orang.
Kedua perang dunia ini melibatkan aliansi sejumlah negara besar dengan pemicu konflik yang berbeda:
- Perang Dunia I: Melibatkan Blok Sentral (Jerman, Austria-Hungaria, Bulgaria, Kerajaan Ottoman) melawan Blok Sekutu (Britania Raya, Prancis, Rusia, Italia, Romania, Kanada, Jepang, Amerika Serikat).
- Perang Dunia II: Melibatkan Blok Poros (Jerman Nazi, Italia Fasis, Kekaisaran Jepang) melawan Blok Sekutu (Britania Raya, Prancis, Amerika Serikat, Uni Soviet, Tiongkok).
Pemicu Perang Dunia I
Beberapa faktor menjadi pemicu pecahnya Perang Dunia I:
- Imperialisme: Ekspansi negara-negara kuat seperti Inggris dan Prancis yang menjajah wilayah luas memicu ketegangan antarnegara Eropa.
- Perebutan Kawasan dan Nasionalisme: Nasionalisme Serbia yang berupaya meraih kemerdekaan dari Austria-Hungaria dan Kekaisaran Ottoman, serta pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria oleh seorang nasionalis Serbia pada 28 Juli 1914, menjadi pemicu langsung.
- Konflik Akibat Aliansi: Sistem aliansi yang terbentuk dengan janji saling melindungi justru mendorong negara-negara untuk saling menyatakan perang demi membela sekutunya.
- Persaingan Kekuatan Militer dan Ekonomi: Saling pamer kekuatan militer dan kondisi ekonomi dunia yang memburuk turut mendorong banyak negara terlibat perang.
Perang Dunia I berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Versailles.
Pemicu Perang Dunia II
Perang Dunia II memiliki keterkaitan erat dengan berakhirnya Perang Dunia I, terutama melalui Perjanjian Versailles yang memicu munculnya fasisme dan nazisme di Jerman.
- Kebangkitan Fasisme dan Nazisme: Jerman di bawah Adolf Hitler memulai perang dengan invasi ke Polandia, yang memicu keterlibatan Inggris dan Prancis.
- Pembentukan Blok Poros: Jerman membentuk aliansi dengan Italia dan Jepang.
- Kondisi Ekonomi dan Politik Global: Memburuknya ekonomi dunia, goyahnya pemerintah, meningkatnya radikalisme, serta melemahnya Liga Bangsa-Bangsa menjadi faktor pendukung.
Situasi geopolitik dunia saat ini, dengan adanya perang antarnegara di berbagai wilayah seperti Rusia-Ukraina, Thailand-Myanmar, dan Israel-Palestina, serta ketegangan di Timur Tengah, diperparah dengan tindakan beberapa negara yang dianggap mengusik stabilitas regional dan global, seperti yang diungkapkan SBY.






