— Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera menempatkan percepatan pembangunan infrastruktur permanen sebagai prioritas untuk mempercepat pemulihan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Upaya ini bertujuan memastikan infrastruktur strategis terdampak bencana segera ditangani secara menyeluruh sehingga memberi perlindungan jangka panjang dan memulihkan aktivitas masyarakat.

Monitoring Lapangan Di Nagan Raya Dan Bireuen

Kegiatan monitoring dan evaluasi dilaksanakan pada 14-15 Juli 2026 di Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Bireuen, Aceh, melibatkan pemerintah daerah, Balai Wilayah Sungai (BWS) Aceh, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), serta instansi teknis lain.

Peninjauan lapangan difokuskan untuk memastikan pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak berhenti pada penanganan darurat, melainkan berlanjut menuju pembangunan infrastruktur permanen yang lebih tangguh terhadap ancaman bencana.

Temuan dan Rekomendasi di Kabupaten Nagan Raya

Di Kabupaten Nagan Raya, Tim Satgas PRR meninjau sejumlah infrastruktur prioritas, antara lain Jembatan Krueng Lamie, Jembatan Gunongkong, Jalan dan Jembatan Beutong Ateuh, serta beberapa ruas jalan yang mengalami abrasi akibat gerusan sungai.

Hasil monitoring menunjukkan perlunya percepatan pembangunan penguatan tebing sungai, normalisasi aliran sungai, perlindungan badan jalan, serta penyelesaian pembangunan jembatan sebagai solusi permanen untuk menjaga konektivitas masyarakat.

“Tim meminta pemerintah daerah bersama Pemerintah Aceh, BWS Aceh, BPJN, dan instansi terkait segera memperkuat koordinasi agar penanganan permanen dapat dipercepat sehingga akses masyarakat, kegiatan ekonomi, dan pelayanan publik kembali berjalan optimal,” tulis Tim Satgas PRR dalam laporannya, dikutip Jumat (17/7/2026).

Satgas PRR memberi perhatian khusus pada Jembatan Gunongkong yang belum dapat difungsikan setelah terdampak banjir bandang. Satgas meminta pembangunan jembatan tersebut tetap menjadi bagian dari Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) dan mendorong percepatan pembangunan jembatan darurat melalui koordinasi dengan Pemerintah Aceh dan Satgas Jembatan TNI agar kebutuhan masyarakat terlayani sebelum konstruksi permanen dilaksanakan.

Fokus Pekerjaan di Kabupaten Bireuen

Di Kabupaten Bireuen, perhatian difokuskan pada rehabilitasi Bendung Pante Lhong, Saluran Primer Aramco, pembangunan Jembatan Pante Lhong, serta pekerjaan revetment dan jetty yang merupakan bagian dari sistem pengendalian sungai dan irigasi.

Infrastruktur tersebut berperan strategis menjaga pasokan air bagi sekitar 6.562 hektare lahan persawahan sekaligus melindungi kawasan dari ancaman abrasi dan perubahan alur sungai.

“Perbaikan bendung, saluran primer, pembangunan jembatan, serta pengamanan sungai perlu diselesaikan secara terpadu agar fungsi irigasi, perlindungan infrastruktur, dan konektivitas masyarakat dapat kembali berjalan secara optimal,” tulis Tim Satgas PRR dalam laporannya.

Koordinasi Dan Tindak Lanjut

Satgas PRR menekankan pentingnya sinkronisasi pelaksanaan pekerjaan antara BWS Aceh, BPJN, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan pendekatan terintegrasi, infrastruktur permanen yang dibangun tidak hanya memulihkan kerusakan pascabencana tetapi juga meningkatkan ketahanan kawasan terhadap risiko di masa mendatang.

Selain pengawalan di lapangan, Satgas PRR akan menindaklanjuti masukan dari pemerintah daerah kepada kementerian dan lembaga terkait, termasuk percepatan penyelesaian sejumlah jembatan strategis yang masih menjadi kendala mobilitas masyarakat.