PALI, SUMATERA SELATAN – Momen bahagia pernikahan pasangan Nanda dan Ani di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, menjadi sorotan publik setelah sebuah video viral di media sosial. Resepsi pernikahan tersebut terpaksa digelar di tengah genangan banjir yang merendam lokasi acara hingga setinggi lutut orang dewasa.
Tradisi Lokal Tetap Berjalan di Tengah Keterbatasan
Dalam rekaman video yang beredar, banjir yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Lematang tampak menggenangi area resepsi. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat pasangan pengantin dan keluarga untuk tetap melaksanakan rangkaian acara pernikahan. Kedua mempelai terlihat menaiki perahu yang dikayuh oleh seorang kerabat untuk mencapai pelaminan.
Keunikan resepsi ini semakin terasa dengan kehadiran grup musik tanjidor. Enam personel tanjidor dengan sigap menerjang banjir demi mengiringi pengantin menuju pelaminan. Mereka tetap memainkan instrumen musik secara maksimal, memberikan nuansa meriah di tengah kondisi yang tidak biasa. Para tamu undangan pun tampak antusias dan rela menerjang banjir untuk turut berbahagia bersama kedua mempelai.
Kepala Desa Apresiasi Semangat Pengantin dan Seniman Lokal
Pernikahan yang berlangsung di Desa Pandan, Kecamatan Tanah Abang, ini menjadi bukti ketahanan dan semangat masyarakat setempat. Kepala Desa Pandan, MG Nisar, menjelaskan bahwa tradisi musik tanjidor merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya lokal masyarakat Tanah Abang, PALI, yang lazim mengiringi pengantin.
“Tanjidor ini sudah menjadi budaya lokal di PALI yang biasa mengiringi pengantin menuju pelaminan. Walaupun sedang banjir, tidak menyurutkan pengantin untuk tetap resepsi, dan pemain tanjidor juga tetap menghibur tamu yang datang,” ujar Nisar, Senin (09/02/2026).
Keputusan pasangan Nanda dan Ani untuk tetap menggelar resepsi di tengah banjir, serta semangat para seniman tanjidor yang tetap tampil profesional, menunjukkan betapa pentingnya tradisi dan kebersamaan bagi masyarakat setempat, bahkan dalam situasi yang menantang.





